MJNEWS.ID – Puluhan warga Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, menggelar aksi penolakan terhadap aktivitas tambang yang berlangsung di wilayah tersebut, beberapa waktu lalu Minggu (30/8/2026) mendapat sorotan dari mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Razali Maop yang diterima redaksi MJ NEWS, Sabtu (5/9/2026).
Dalam keterangannya Razali menyebut aksi tersebut dilakukan oleh berbagai kalangan warga, mulai dari pria, wanita hingga anak-anak. Mereka berkumpul untuk menyampaikan aspirasi dan keberatan terhadap aktivitas pertambangan yang dinilai perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Dalam aksi itu, warga menyampaikan sejumlah orasi dan tuntutan. Massa juga membawa puluhan bendera Bulan Bintang yang dikibarkan selama kegiatan berlangsung sebagai simbol dalam menyampaikan aspirasi mereka.
Aksi penolakan tambang tersebut berlangsung di sebuah jembatan di wilayah Beutong Ateuh. Setelah menyampaikan orasi, massa kemudian bergerak menuju lokasi lainnya untuk melanjutkan penyampaian aspirasi.
Warga meminta pemerintah memperhatikan berbagai persoalan yang mereka kaitkan dengan aktivitas pertambangan di kawasan tersebut. Aspirasi itu diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan dalam menentukan kebijakan terkait kegiatan pertambangan di Beutong Ateuh.
Razali Maop: Aspirasi Warga Perlu Didengar
Menanggapi aksi tersebut, Razali Maop mengatakan bahwa penyampaian aspirasi masyarakat merupakan bagian dari dinamika kehidupan demokrasi yang perlu dihormati.
Menurutnya, persoalan aktivitas tambang sebaiknya dibahas secara terbuka dengan melibatkan masyarakat, pemerintah, serta pihak-pihak yang berkepentingan. Dengan demikian, setiap persoalan dapat diselesaikan berdasarkan aturan dan kepentingan masyarakat secara luas.
“Yang paling penting adalah aspirasi masyarakat dapat didengar dan persoalannya dibahas melalui mekanisme yang sesuai. Semua pihak tentu perlu menjaga situasi tetap kondusif agar penyelesaian persoalan tambang dapat dilakukan secara objektif dan berdasarkan aturan yang berlaku,” ujar Razali Maop.
Razali juga menilai pemerintah perlu memberikan penjelasan yang transparan mengenai aktivitas pertambangan, termasuk aspek perizinan, dampak terhadap lingkungan, serta kepentingan masyarakat di sekitar wilayah kegiatan.
“Kalau ada keberatan dari masyarakat, sebaiknya pemerintah membuka ruang dialog. Masyarakat juga perlu menyampaikan aspirasi secara tertib sehingga semua pihak dapat mencari solusi yang terbaik,” katanya.
Aksi puluhan warga Beutong Ateuh tersebut menjadi perhatian karena selain diikuti oleh berbagai kelompok masyarakat, massa juga membawa simbol Bulan Bintang dalam menyampaikan penolakan terhadap aktivitas tambang.
Selanjutnya, masyarakat berharap pemerintah dapat merespons aspirasi tersebut dan melakukan peninjauan terhadap persoalan yang berkembang di lapangan.
Penyelesaian persoalan tambang di Beutong Ateuh diharapkan tidak hanya mempertimbangkan aspek ekonomi, tetapi juga memperhatikan kepentingan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
