Berita

Pedagang dan Pelaku Usaha Kuliner Berharap Harga Telur di Blitar Turun

4
×

Pedagang dan Pelaku Usaha Kuliner Berharap Harga Telur di Blitar Turun

Sebarkan artikel ini
file 000000000e387206a969b758e68b1917

Mjnews.id – Tingginya harga telur ayam ras di Kabupaten Blitar menuai perhatian dari kalangan pedagang dan pelaku usaha kuliner. Meski dikenal sebagai salah satu sentra produksi telur terbesar di Jawa Timur, harga telur di Blitar tercatat masih berada di kisaran Rp26.000 per kilogram berdasarkan data Siskaperbapo Jawa Timur per 3 Juni 2026.

Kondisi tersebut membuat para pedagang berharap harga telur dapat segera turun agar daya beli masyarakat meningkat dan biaya operasional usaha menjadi lebih ringan.

ADVERTISEMENT

Salah seorang pedagang makanan di Blitar mengatakan telur merupakan bahan baku utama yang digunakan setiap hari. Ketika harga telur bertahan tinggi, keuntungan usaha menjadi semakin tipis karena tidak semua kenaikan biaya dapat dibebankan kepada konsumen.

“Kalau harga telur turun, kami bisa lebih leluasa menjaga harga makanan tetap terjangkau. Konsumen juga tidak terbebani,” ujarnya.

Harapan serupa juga disampaikan sejumlah pedagang sembako. Mereka menilai masyarakat sering mempertanyakan mengapa harga telur di daerah penghasil justru tidak jauh berbeda dengan daerah lain yang bukan sentra produksi.

Menurut mereka, keberadaan ribuan peternakan ayam petelur di Kabupaten Blitar seharusnya dapat menjadi faktor yang membantu menjaga harga tetap kompetitif bagi masyarakat lokal.

Selain membantu rumah tangga, penurunan harga telur dinilai akan berdampak positif terhadap sektor usaha mikro seperti warung makan, pedagang gorengan, penjual kue, hingga usaha katering yang sangat bergantung pada komoditas tersebut.

Para pedagang berharap pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan terkait dapat melakukan evaluasi terhadap rantai distribusi dan mekanisme pembentukan harga telur sehingga manfaat status Blitar sebagai sentra produksi benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat.

“Yang kami inginkan bukan harga yang merugikan peternak, tetapi harga yang wajar dan seimbang. Peternak tetap untung, masyarakat dan pedagang juga tidak terlalu terbebani,” kata seorang pedagang.

Dengan harga yang lebih terjangkau, para pelaku usaha optimistis perputaran ekonomi di tingkat bawah akan meningkat, sementara masyarakat dapat memperoleh kebutuhan pangan dengan harga yang lebih ramah di kantong. (*)

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT