Mjnews.id – Dalam rangka memperingati 100 Tahun Jam Gadang, Pemerintah Kota Bukittinggi bekerjasama dengan International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) 2026 gelar Seminar Utama Jam Gadang dalam Berbagai Perspektif, berlangsung di Balairuang Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi, Kamis 4 Juni 2026.
Seminar ini menghadirkan Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri, Denny Abdi, sebagai pembicara kunci. Selain itu, sejumlah narasumber dari dalam dan luar negeri turut berbagi pandangan, yakni Prof. Gusti Asnan (Indonesia), Arnaud Kokosky (Belanda), Berthold Damshäuser (Jerman), Nanang Asfrianal (Indonesia) dan Dr. Les Wicks (Australia).
Ketua DPRD Kota Bukittinggi, Syaiful Efendi, menjelaskan, Perjalanan sejarah Kota Bukittinggi dimulai dari berkembangnya fungsi perdagangan dan mulai menjadi tempat tujuan menjual hasil bumi. Melalui salah satu seminar yang dikelola Pemerintah Kota Bukittinggi bekerja sama dengan Universitas Andalas diperoleh kesepakatan dan kesimpulan bahwa fungsi perdagangan Kota Bukittinggi ditetapkan pada tanggal 22 Desember 1784 yang kemudian dikukuhkan sebagai tanggal Hari Jadi Kota Bukittinggi.
Selanjutnya pada tahun 1926 untuk memperindah kota dibangunlah menara Jam Gadang dengan puncak menara mencerminkan bangunan ber arsitektur Belanda dengan desain kubah kerucut dengan ornamen patung ayam jantan di puncaknya
Kemudian, pada masa pendudukan Tentara Jepang (dalam suasana Perang Dunia II), atap Jam Gadang mengalami perubahan bentuk menjadi pagoda tradisional Jepang. Pada masa ini Bukittinggi dijadikan pusat Angkatan Darat di Sumatera dan semenanjung (Malaya). Pemerintahan pendudukan Jepang meninggalkan “kenangan pendudukan” yang sekarang dikelola menjadi objek wisata yang dinamakan Lobang Jepang, yang sebelumnya oleh Jepang dipersiapkan sebagai tempat pertahanannya.
Terakhir mengalami perubahan bentuk menjadi atap gonjong yang merupakan atap khas rumah Minangkabau yaitu rumah gadang. Kondisi sekarang, Jam Gadang sudah menjadi bangunan cagar budaya yang dilindungi negara.
“Perjalanan sejarah kota Bukittinggi memberi motivasi bagi kami Pemerintah Kota Bukittinggi untuk menggelar peringatan 100 Tahun Jam Gadang dengan mengundang International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) menyelenggarakan moment berskala internasional ini supaya dunia internasional mengetahui dan memahami bahwa Kota Bukittinggi memiliki peran penting disaat eksistensi Republik Indonesia dalam keadaan kritis, dan dengan adanya penetapan Hari Bela Negara tanggal 19 Desember dengan latar belakang sejarah terbentuknya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, maka Pemerintah Kota Bukittinggi mengusulkan kepada Pemerintah Pusat untuk menetapkan Kota Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan,” jelas Syaiful Efendi.
(Aii)












