Menurutnya, guru mengaji, garin, imam masjid, dan guru PAUD memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak sejak dini. Karena itu, dukungan terhadap mereka perlu terus diperkuat.
Wirman juga mengingatkan orang tua agar tidak membiarkan anak berhenti belajar Al-Qur’an setelah khatam.
“Khatam bukan penutup perjalanan. Anak-anak harus terus membaca, mempelajari, menghafal dan mengamalkan Al-Qur’an,” ujarnya.
Khatam Al-Qur’an di Masjid Al Hidayah tahun ini diikuti 34 santriwan dan santriwati. Ketua pelaksana Hendri Fadila mengatakan tradisi tersebut telah dilaksanakan secara rutin sejak 1988.
“Kegiatan ini bukan perlombaan, tetapi momentum bagi anak-anak untuk memberikan kebahagiaan dan doa kepada kedua orang tua,” kata Hendri.
Ia menyampaikan apresiasi kepada majelis guru, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan para donatur yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.
Hendri menjelaskan hadiah dan piala yang diberikan kepada peserta bukan tujuan utama kegiatan, melainkan bentuk penghargaan atas penampilan terbaik para santri dalam rangkaian prosesi khatam Al-Qur’an.
“Semoga seluruh bantuan, tenaga dan pikiran yang diberikan menjadi amal ibadah dan mendapat pahala yang berlipat ganda,” pungkasnya. (MC)
