Mahyeldi berharap, kehadiran infrastruktur pertanian tersebut diikuti dengan pengembangan fasilitas pendukung kehidupan masyarakat, termasuk musala dan ruang aktivitas bagi anak-anak. Menurutnya, pembangunan harus memberikan dampak yang lebih luas dan dirasakan masyarakat secara berkelanjutan.
“Dengan adanya air ini, mudah-mudahan akan ada pengembangan-pengembangan lain yang dilakukan untuk masa yang akan datang. Nikmat yang sudah ada ini harus kita syukuri dengan cara menjaga, memelihara dan merawatnya dengan sebaik-baiknya,” tutur Mahyeldi.
Ia berharap pompanisasi berbasis tenaga surya tersebut menjadi titik awal bagi peningkatan produktivitas pertanian sekaligus kesejahteraan masyarakat Tanjung Barulak. Dengan kolaborasi dan semangat gotong royong yang terus dipelihara, fasilitas tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang dan menjadi bagian dari upaya Sumatera Barat memperkuat ketahanan pangan.
Sementara Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tanah Datar, Abdul Rahman Hadi menjelaskan sistem pompanisasi tersebut diproyeksikan mampu mengairi sekitar 400 hektare persawahan masyarakat Tanjung Barulak. Bahkan, dengan pengembangan lebih lanjut, jangkauan layanan air berpotensi diperluas ke nagari-nagari yang berbatasan dengan Tanjung Barulak.
Ia menyebutkan, Nagari Tanjung Barulak dihuni sekitar 1.700 kepala keluarga atau sekitar 5.000 jiwa. Selama ini, sebagian besar aktivitas pertanian masyarakat masih mengandalkan sistem tadah hujan. Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala dalam meningkatkan produktivitas pertanian, termasuk dalam pelaksanaan program bajak sawah gratis karena lahan yang kekurangan air cenderung lebih sulit diolah.
Selanjutnya, General Manager PT PLN (Persero) UID Sumbar, Ririn Rachma Wardini mengatakan pompanisasi tersebut merupakan hasil kolaborasi PLN, Universitas Andalas, dan berbagai pemangku kepentingan. Fakultas Teknik Unand sebelumnya telah mengembangkan prototipe pompanisasi berbasis tenaga surya yang kemudian dikembangkan agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui dukungan TJSL PLN.
Menurut Ririn, pemanfaatan energi bersih untuk mendukung sektor pertanian tersebut diharapkan dapat direplikasi di daerah lain di Sumatera Barat. Selain membantu memastikan ketersediaan air, inovasi tersebut juga membuka peluang peningkatan produktivitas pertanian dan penguatan ketahanan pangan di tingkat nagari.
“Kami berharap air yang hari ini mulai mengalir ke lahan pertanian Tanjung Barulak menjadi awal mengalirnya produktivitas, kesejahteraan, harapan baru dan semangat baru bagi masyarakat sekitar,” ungkapnya.
Turut hadir Kepala BIN Daerah Sumatera Barat Ahad Dailimi, Sekda Tanah Datar Abdul Rahman Hadi, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi Sumbar Rifda Suriani, Kepala Dinas ESDM Sumbar Helmi Heriyanto, GM PLN UID Sumbar Ririn Rachma Wardini beserta jajaran, Direktur Utama Bank Nagari Gusti Candra, perwakilan PT Semen Padang Nurwan, perwakilan Fakultas Teknik Universitas Andalas Dendi Adi Saputra, Forkopimda dan Forkopimca, Wali Nagari dan KAN Tanjung Barulak, kelompok tani Saiyo, serta tokoh masyarakat, alim ulama, ninik mamak, cadiak pandai, dan bundo kanduang. (adpsb)












