BeritaEkonomiNasionalOlahragaOpini

Generasi Muda Jangan Loyo, Gema Sasmita Optimistis Indonesia Bisa Jadi Rantai Pasok Industri Olahraga

30
×

Generasi Muda Jangan Loyo, Gema Sasmita Optimistis Indonesia Bisa Jadi Rantai Pasok Industri Olahraga

Sebarkan artikel ini
GridArt 20261029 064134100 copy 4096x2304 scaled
Pengurus KADIN Indonesia Bidang Perencanaan Nasional yang membidangi Pemuda dan Olahraga, Gema Sasmita,. (Dok. Istimewa)

MJNEWS.ID – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia mendorong generasi muda menjadikan kebugaran dan industri olahraga sebagai peluang usaha untuk memperkuat perekonomian nasional. Dorongan tersebut disampaikan dalam momentum Hari Sumpah Pemuda ke-98, Rabu (28/10/2026).

Besarnya pasar olahraga global yang mencapai lebih dari Rp9.480 triliun menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan industri olahraga nasional. Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga mampu menciptakan produk, membangun usaha, dan menguasai rantai pasok industri olahraga.

ADVERTISEMENT

Pengurus KADIN Indonesia Bidang Perencanaan Nasional yang membidangi Pemuda dan Olahraga, Gema Sasmita, menilai kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi nasional.

Menurut Gema, semangat Sumpah Pemuda perlu diwujudkan melalui peningkatan kedisiplinan, kebugaran fisik, serta kemampuan generasi muda membaca peluang usaha di tengah perkembangan ekonomi modern.

“Sumpah Pemuda 1928 adalah tonggak persatuan tekad menuju kedaulatan bangsa,” ujar Gema di Menara KADIN Indonesia, Jakarta.

Ia menjelaskan, semangat kebangsaan saat ini perlu diterjemahkan melalui produktivitas, ketahanan nasional, dan kemandirian usaha. Aktivitas kebugaran juga perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari untuk mendukung kualitas angkatan kerja.

“Bangsa dengan 280 juta penduduk tidak akan mampu mengonversi bonus demografi apabila angkatan kerjanya rapuh secara stamina dan minim disiplin,” katanya.

Selain aspek kesehatan, Gema menyoroti besarnya potensi ekonomi industri olahraga yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal di Indonesia.

Mengacu pada laporan riset pasar dari The Business Research Company dan Research and Markets, nilai pasar industri olahraga global telah mencapai USD 521,7 miliar atau setara lebih dari Rp9.480 triliun berdasarkan kurs Rp18.183 per dolar AS.

Potensi tersebut semakin besar jika memperhitungkan sektor wisata olahraga atau sport tourism. Mordor Intelligence memproyeksikan pasar wisata olahraga global melampaui USD 712 miliar atau sekitar Rp12.940 triliun.

Di tengah besarnya pasar global tersebut, nilai industri olahraga domestik Indonesia disebut masih berada di bawah Rp40 triliun. Kondisi ini menunjukkan masih terbukanya peluang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan produk dan layanan olahraga yang mampu bersaing di pasar internasional.

Gema menilai generasi muda Indonesia perlu mengambil peran lebih besar dalam rantai nilai industri olahraga. Selama ini, pasar domestik dinilai masih didominasi konsumsi produk dan layanan dari luar negeri.

“Populasi muda kita selama ini dominan menempati posisi sebagai konsumen akhir dan penonton liga-liga asing maupun jenama multinasional,” papar Gema.

Ia menegaskan, tantangan strategis ke depan adalah mendorong pemuda menjadi produsen, pengembang ekosistem usaha, serta pelaku yang mampu menguasai rantai pasok industri olahraga.

Gema memetakan tiga sektor industri olahraga yang berpotensi dikembangkan oleh wirausahawan muda Indonesia.

Pertama, manufaktur dan perlengkapan olahraga. Generasi muda didorong mengembangkan produksi pakaian serta peralatan olahraga berstandar tinggi yang mampu bersaing di pasar ekspor.

Peluang ini dapat ditopang oleh kemampuan industri tekstil dalam negeri serta pengembangan material ramah lingkungan untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah.

Kedua, wisata olahraga berbasis pengalaman. Penyelenggaraan maraton, balap sepeda alam, hingga kejuaraan olahraga bahari dapat dikembangkan dengan melibatkan sektor pariwisata, perhotelan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah.

Pengembangan wisata olahraga juga berpotensi membuka lapangan kerja dan meningkatkan perputaran ekonomi lokal melalui keterlibatan pelaku usaha serta masyarakat setempat.

Ketiga, teknologi olahraga dan infrastruktur digital. Peluang usaha terbuka melalui pengembangan analisis performa atlet berbasis kecerdasan buatan, sistem reservasi fasilitas olahraga, perangkat pemantau kebugaran atau wearables, serta pengelolaan turnamen olahraga elektronik atau esports secara profesional.

KADIN Indonesia turut mendorong integrasi aktivitas olahraga ke dalam pengembangan dunia usaha nasional. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pengembangan Kadin Indonesia Golf Club (KIGC), yang melibatkan pelaku usaha lintas sektor dari 15 chapter daerah.

KADIN juga mendukung perkembangan olahraga perkotaan, termasuk kompetisi padel di sejumlah kota besar dan pembinaan federasi bela diri di tingkat akar rumput.

Dari sisi perencanaan pembangunan, Gema menegaskan pentingnya memasukkan industri olahraga ke dalam agenda transformasi ekonomi nasional. Sinergi antara dunia usaha dan pemerintah diperlukan agar potensi pasar dapat dikembangkan menjadi sektor produktif yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian.

“Sebagai mitra strategis pemerintah, KADIN Indonesia melalui Bidang Perencanaan Nasional terus berdiskusi dan berkoordinasi intensif dengan Kementerian PPN/Bappenas untuk menyelaraskan peta jalan industri olahraga ke dalam agenda perencanaan nasional jangka panjang,” ungkapnya.

Gema menambahkan, ekosistem olahraga perlu ditempatkan sebagai sektor produktif dengan arah pengembangan yang jelas dan terukur, bukan sekadar pelengkap pembangunan.

“Kedaulatan nasional yang sejati membutuhkan rakyat yang bugar dan industri lokal yang berdaya saing global,” pungkas Gema.

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT