EkonomiKabupaten Dharmasraya

Harga Anjlok, Petani dan Buruh Kelapa Sawit di Dharmasraya Merugi

244
Petani Kelapa Sawit di Dharmasraya
Petani Kelapa Sawit di Dharmasraya. (eko)
DHARMASRAYA, Mjnews.id – Kondisi dengan dengan Tandan Buah segar (TBS) kelapa sawit yang harganya terjun bebas alias anjlok, membuat para petani dan buruh sawit mengeluh dan merugi pendapatannya.
Hasil pantauan di lapangan, harga TBS kelapa sawit saat ini berkisar Rp 1.720 per kilogram sedangkan sebelumnya berkisar Rp 3.250 per kilogramnya.
Salah seorang petani sawit, Afrizal yang ditemui awak media pada Kamis (19/05/2022) siang mengatakan, terkait dengan larangan Ekspor CPO sawit oleh Pemerintah Pusat, sangat berdampak sekali terhadap para petani dan buruh sawit di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat sekarang ini.
Dimana saat ini harga Tandan Buah segar (TBS) kelapa sawit terjun bebas alias anjlok, sangat berdampak dengan perekonomian rumah tangga kami sebagai petani dan buruh sawit. Belum lagi harga pupuk yang melambung tinggi dan langka, belum lagi harga kebutuhan sembako saat ini juga naik, dan biaya perawatan kebun yang cukup tinggi tidak sesuai dengan harga TBS kelapa sawit sekarang ini.
“Kami berharap kepada pemerintah untuk bisa kembali mencabut larangan ekspor CPO sawit oleh Pemerintah Pusat, dan kembalikan naikkan harga TBS kelapa sawit.
Sementara itu, seorang buruh pekerja sawit, Budi Yono menyakmpaikan hal senada dimana harga TBS terjun bebas sekarang ini, dampaknya banyak sekali. Karena tidak sesuai dengan saat sekarang ini, yang mana biaya perawatan cukup tinggi kemudian harga pupuk yang cukup tinggi dan langka, dan tidak bisa terbeli oleh petani.
“Kalau seperti ini para petani dan buruh sawit akan sengsara nantinya. Apabila harga TBS kelapa sawit tidak kunjung naik,” ucapnya.
Adanya larangan ekspor CPO sawit sangat berdampak sekali terhadap para petani dan buruh sawit.
“Kami selaku pekerja buruh dan petani sawit meminta kepada pemerintah pusat, untuk menaikkan harga TBS kelapa sawit, larangan ekspor CPO sawit oleh pemrintah pusat. semoga nantinya kami sebagai pekerja buruh dan petani sawit akan menikmati hasil perkebunan sawit dengan layak,” harap Budi Yono.
(eko)
Exit mobile version