KesehatanNasionalOpini

Kasus Diabetes Anak: Perlu Kebijakan Tegas agar Indonesia Emas Tidak Gagal

1698
Jasra Putra
Jasra Putra. (f/ist)

Mulai dari pahami kebutuhan setiap usia itu berbeda; kebutuhan terus berubah ketika usia bertambah; pentingnya budaya rutin mengenal asupan protein yang lebih penting dibanding asupan lainnya; kemudian program ini bisa mengawasi bagaimana mulai dari proses menanam, memproses dalam bentuk makanan sampai di konsumsi anak, harus berprasyarat mengandung high nutrient dense bukan calorie dense. Sehingga program makan gratis menjadi pintu masuk edukasi memperbaiki cara dan budaya anak anak mengkonsumsi makanan dan minuman, termasuk bagaimana bisa membuat pengawasan efektif dalam penyelenggaraan program makan gratis ini.

Sehingga kita bisa mengurangi prevalensi kelebihan berat badan, obesitas, dan penyakit tidak menular yang di derita anak anak Indonesia saat ini.

ADVERTISEMENT

Saya kira anak-anak tidak pantas di umurnya yang belia harus menanggung dari hal-hal yang seharusnya bisa kita cegah bersama, sehingga butuh program dan kebijakan ambisius dari para Kepala Daerah dalam menjawab Amanah Presiden.

Harusnya, ujung dari program makan gratis ini sebagai pintu mengejar ketertinggalan, membangun data base riwayat kesehatan anak, aksi kongkret mengenalkan budaya makan dan minum sehat.

Saya kira peringatan para dokter ini harus menjadi alert warning system buat kita semua. Karena yang mengalami mereka, menghadapi langsung situasi anak anak sekarang. Dimana ada hubungan positif yang telah diamati antara kekurangan gizi pada saat dalam kandungan dan berat badan kurang saat lahir, dan kemungkinan mengalami kelebihan berat badan atau obesitas ketika dewasa yang nantinya dapat menyebabkan hipertensi dan diabetes tipe dua serta penyakit kardiovaskular dan stroke, kemudian menyebabkan banyak ketertinggalan pada pertumbuhan anak yang ujungnya menginggalkan problematik masalah kejiwaan dan emosi anak.

Tentu sangat mengerikan ya, ini diderita anak anak kita sekarang. Saya kira masih ada kesempatan untuk bekerja bersama dalam melihat darurat diabetes dan dampak lanjutan pada anak-anak kita.

Saya kira kekhawatiran mendalam para dokter, tanpa harus mengatakan itu ketakutan, tentang 70 persen peningkatan diabetes pada anak yang kemudian berlanjut pada PTM yang berat, benar-benar harus bisa dijawab dengan intervensi kebijakan pada layanan kesehatan masyarakat, agar obesitas dapat terselesaikan. Terutama melalui pintu masuk program makan gratis sehingga bisa menguatkan dan merubah kebijakan yang ada.

Dalam program makan gratis Bapak Prabowo dan Mas Gibran, saya kira sangat positif, karena akan ada makan bersama, budaya bersama, dukungan sebaya dengan mengkonsumsi makanan sehat. Karena umumnya anak tidak terbiasa makan sayur misalnya. Sehingga penguatan sebaya, budaya sosial, budaya agama, budaya makan bersama akan sangat menolong program ini terealisasi dengan baik.

Namun kita juga mengingatkan, ada kegiatan parallel yang wajib dilakukan di sekolah, tentang edukasi rutin membatasi gula, garam dan minyak; membudayakan minum air putih 8 gelas sehari, mencuci tangan, memantau berat badan, berolahraga. Bahkan sebelum makan gratis sangat baik bila sebelumnya disertai kegiatan bersama jalan jalan, senam, bersepeda, kerja bakti. Saya kira budaya senam nasional di sekolah perlu digiatkan kembali juga.

Kita berharap program-program keberlanjutan di dalam menyiapkan generasi emas dengan modal kesehatan yang tinggi dapat tercipta. Sebenarnya konstitusi kita sudah mengamanatkan dan memberi anggaran dengan porsi yang besar, namun realisasinya perlu dikejar dan dipenuhi.

Artinya perlu keberpihakan besar pada program penyelenggaraan perlindungan anak agar terhindar dari obesitas ini.

Penulis, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia

(*)

Exit mobile version