Opini

Wajah Baru Media Dakwah di Era Digital

60
Tomi Hendra
Tomi Hendra. (f/ist)

Namun di balik kemudahan ini tersimpan tantangan besar yang perlu diperhatikan yaitu pentingnya menjaga etika dan moral dalam setiap bentuk komunikasi.

Etika dalam berdakwah melalui media bukanlah sekedar pelengkap, tetapi merupakan hal penting untuk menjaga integritas pesan yang disampaikan. Tanpa adanya landasan etika dan moral yang kuat, media sosial bisa dengan mudah jatuh ke dalam malpraktik, penyalahgunaan bahkan penyebaran informasi yang merugikan.

ADVERTISEMENT

Oleh karena itu hubungan antara dakwah dan media sosial harus bersifat saling mendukung dan memperkuat satu sama lain.

Dalam kontek ini penting untuk melihat tantangan di era perkembangan media sosial. Dakwah tidak lagi hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga bagaimana mengelola pesan tersebut agar tidak kehilangan esensinya di tengah hiruk pikuk informasi digital.

Peran media sosial dalam berdakwah

Media sosial memiliki peran yang cukup siknifikan di era cyberspace, dimana sebelumnya dunia dakwah harus bertatap muka dalam pertemuan, tapi saat ini telah bertranformasi ke dalam dunia digital sehingga ini menjadi tren baru dalam interaksi sosial.

Selain itu media sosial juga telah membuktikan mampu untuk menembus ruang dan waktu, serta menciptakan interaksi yang nirwaktu dan nirjarak.

Hal inilah yang menjadikan media sosial sebagai platform yang sangat efektif dalam berdakwah. Dimana berbagai bentuk komunikasi terkonvergensi dalam satu wadah yang disebut dengan multimedia.

Dalam konteks ini, media sosial tidak hanya menjadi sarana penyebaran informasi, tetapi juga menjadi tempat dimana tren dakwah dapat terbentuk.

Menurut Abudiman, pemimpin di dunia maya adalah mereka yang mampu menjadi trendsetter dalam lingkungan media sosial. Popularitas dakwah tidak hanya bergantung pada kualitas pesan yang disampaikan, tetapi juga pada seberapa baik seorang dai dapat memanfaatkan media elektronik untuk menarik perhatian audiens.

Sekarang ini media sosial memberikan kekuatan besar kepada dai untuk membangun massa yang lebih luas dan berpengaruh. Namun, hubungan antara pemimpin dan pengikut di dunia maya bersifat horizontal, bukan vertikal.

Artinya, setiap pengguna media sosial memiliki kedudukan yang setara, di mana mereka bisa memilih untuk mendukung atau menolak tren yang ada. Bahkan, pengguna juga dapat menciptakan “koloni” baru dengan menjadi oposisi terhadap tren yang sedang berlangsung.

Exit mobile version