Opini

Wajah Baru Media Dakwah di Era Digital

60
Tomi Hendra
Tomi Hendra. (f/ist)

Maka Kondisi seperti saat ini membuka peluang bagi siapa saja untuk menjadi dai di media sosial. Siapapun yang mampu menciptakan tren, baik dalam bentuk ide, gagasan, atau praktik dakwah, dapat memimpin publik versi media sosial.

Dengan demikian, media sosial bukan hanya alat untuk menyebarkan dakwah, tetapi juga arena di mana kepemimpinan baru dalam dakwah dapat terbentuk dan berkembang.

ADVERTISEMENT

Tantangan dakwah di era perkembangan media sosial

Tantangan dakwah di era media sosial menjadi semakin kompleks seiring dengan kemajuan teknologi dan transformasi cara berkomunikasi. Media sosial telah membuka akses dan komunikasi virtual yang mudah dan cepat, memberi keuntungan besar bagi mereka yang ingin menyebarkan pengetahuan, termasuk dakwah.

Menurut Dailey, media sosial adalah konten online yang sangat mudah diukur dan diakses, mempengaruhi cara orang mengetahui, membaca, dan berbagi cerita.

Platform besar seperti Facebook, Twitter, dan LinkedIn menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, dakwah dan teknologi tidak dapat dipisahkan, terutama dalam konteks dakwah kontemporer yang semakin mudah diterima masyarakat.

Penggunaan teknologi dalam dakwah seharusnya dipandang sebagai alat untuk mempermudah penyampaian pesan agar tetap relevan dan tidak ketinggalan zaman. Meski teknologi tidak selalu positif, setiap kemajuan memiliki kelebihan dan tantangan tersendiri. Dalam hal ini, media sosial bukan hanya memberikan manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan bagi dakwah di tengah arus globalisasi.

Salah satu tantangan utama adalah tumbuhnya media massa sekuler dan anti-Islam. Meski negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim memiliki kekuatan besar, media massa sering kali justru tidak berpihak kepada Islam.

Berbagai peristiwa, baik di dalam negeri maupun internasional, sering kali diposisikan untuk menyudutkan umat Islam. Sementara itu tantangan lainnya ada juga problematika internal di kalangan aktivis dakwah.

Menurut Syamsuriah, masalah internal seperti gejolak kejiwaan (cemas, bingung, marah) dan godaan syahwat sering kali menjadi hambatan bagi para dai. Jika tidak dikelola dengan baik, masalah ini dapat merusak citra dakwah itu sendiri.

Selain itu, masalah amanah dan tanggung jawab dalam menghadapi persoalan dakwah sering kali memunculkan konflik internal.

Exit mobile version