Opini

Gen Z dan Bayang-Bayang World War 3: Ketika Bingkai Media Berubah di Tangan Generasi Muda

9
Beberapa cuplikan konten candaan Gen Z tentang World War 3 di platform Tiktok
Beberapa cuplikan konten candaan Gen Z tentang World War 3 di platform Tiktok. (f/ist)

Bingkai Gen Z: Perang Sebagai Simbol Kekacauan dan Humor

Berbanding terbalik dengan media, Gen Z justru menghadirkan bingkai alternatif. Lewat video pendek dan komentar sarkastik, mereka memaknai isu World War 3 bukan sebagai ancaman militer semata, tapi juga sebagai gejala dari dunia yang absurd. Mereka mendefinisikan perang dengan kehidupan sehari-hari yang tidak pasti, serta menyampaikan kecemasan melalui candaan, bukan wacana strategis. Mereka memang tidak menawarkan solusi penyelesaian, tetapi mereka menyuarakan bahwa tertawa juga bentuk perlawanan terhadap ketakutan.

Video pendek seperti GRWM (Get Ready With Me) ketika perang dan OOTD (Outfit Of The Day) perang, serta komentar sarkastik seperti “takut masuk buku PKN” dan “rekomendasi skincare tahan bom” menunjukkan bagaimana Gen Z mengaburkan batas antara ancaman dan candaan. Ini bukan pelecehan terhadap tragedi, tetapi upaya menciptakan jarak emosional agar tetap bisa waras.

ADVERTISEMENT

Dalam perspektif framing kritis yang dijelaskan oleh Entman dan diperkuat oleh Van Gorp serta Scheufele, kita melihat bahwa bingkai tidak terbentuk dari teks semata, melainkan dari interaksi antara teks, budaya, dan audiens.

“Frame is not just about what’s said, but what’s made meaningful.”
Dietram Scheufele

Gen Z tumbuh dalam budaya digital yang membentuk kerangka interpretatif tersendiri. Perang bisa dibingkai sebagai ancaman (oleh media) atau konten (oleh Gen Z).

Teori framing mengajarkan kita bahwa setiap narasi memiliki bingkai, dan bingkai membentuk makna. Dalam kasus ini, media membingkai World War 3 sebagai konflik elite negara. Sementara Gen Z membingkainya sebagai bagian dari pengalaman hidup di dunia yang tidak pasti. Alih-alih mentertawakan penderitaan, Gen Z justru sedang memproses ketakutan dengan bahasa yang mereka kuasai, yakni meme, komentar, simbol, dan kreativitas digital.

Mereka mungkin bercanda, tapi bukan berarti tidak peduli. Mereka mungkin tertawa, tapi bukan karena tidak takut. Mereka hanya membingkai ulang ketakutan menjadi sesuatu yang bisa mereka kendalikan, walau hanya sebatas komentar asbun dan konten lucu.

Penulis, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

(*)

Exit mobile version