Opini

Fenomena Gwan Shik di TikTok: Ketika Perempuan Menemukan Standar Baru Laki-Laki Ideal

385
Gwan Shik dalam drama When Life Gives You Tangerines
Gwan Shik dalam drama When Life Gives You Tangerines. (f/netflix)

Beberapa bulan terakhir, nama Gwan Shik hampir tidak pernah absen dari linimasa TikTok. Gwan Shik adalah karakter laki-laki utama dalam drama When Life Gives You Tangerines, yang digambarkan sebagai pria sederhana dari keluarga tidak berada, pekerja keras, namun memiliki sifat penuh empati dan ketulusan.

Oleh: Putri Amelia

Mjnews.id – Ia bukan tipe laki-laki dominan, justru daya tariknya muncul dari karakter yang hangat, stabil, dan mampu menghadirkan rasa aman.

ADVERTISEMENT

Potongan adegan manis, kompilasi momen penuh perhatian, hingga komentar yang berisi kekaguman membuat karakter ini seolah hidup di luar cerita fiksinya. Bagi banyak pengguna TikTok, terutama audiens perempuan, Gwan Shik bukan sekadar tokoh drama, tetapi representasi dari laki-laki maskulin, seseorang yang hadir, memahami, dan tidak memposisikan diri secara superior.

Tidak mengherankan jika berbagai unggahan dengan tagar #whenlifegivesyoutangerines terus berseliweran di FYP TikTok. Melalui ribuan video edit, POV, dan komentar, netizen menjadikan karakter ini sebagai simbol baru dari maskulinitas yang aman, lembut, dan setara. Bukan hanya viral, tetapi menjadi standar laki-laki yang dianggap layak dijadikan pasangan oleh audiens perempuan Indonesia.

Fenomena ini bukan sekadar tren hiburan. Ini berkaitan dengan bagaimana perempuan kini memaknai representasi laki-laki yang mereka temukan di media, terutama di TikTok yang sangat cepat menyebarkan emosi, pandangan, dan nilai sosial. Perubahan cara perempuan menilai dan mengidentifikasi maskulinitas ini terlihat jelas dari bagaimana mereka merespons karakter Gwan Shik.

Media dan Terpaan Selektif Perempuan TikTok

Stuart Hall (2012) menjelaskan bahwa media berperan dalam membentuk pengetahuan sosial dan imajinasi kolektif. Ketika audiens mengonsumsi konten Gwan Shik melalui tagar #whenlifegivesyoutangerines di TikTok, mereka sebenarnya tidak hanya menonton konten, tetapi juga menafsirkan ulang seperti apa laki-laki ideal yang mereka anggap layak dijadikan pasangan.

Dalam hal ini, TikTok menjadi ruang terpaan selektif. Perempuan menonton, memilih, lalu menafsirkan karakter Gwan Shik berdasarkan pengalaman emosional dan kebutuhan mereka. Karena itu, reaksi yang muncul sangat intens dan personal.

Unggahan dari akun @bebesheee2 adalah salah satu contohnya. Video berjudul “Kita usahakan menikahlah dengan laki-laki yang ga harus mapan dan kaya yang penting…” langsung memicu ribuan komentar yang sebagian besar datang dari audiens perempuan.

Akun @caramel.ilyy menulis, “Itu bukan standar TikTok ya ges, tapi ini tuh contoh laki-laki sesungguhnya.”

Akun @acromio.clavicular menambahkan, “Perset*n dibilang standar TikTok, gua cuma mau suami spek Gwan Shik.”

Sementara @dihackhahaha mengaitkannya dengan harapan masa depan: “Gapapa ga kaya, yang penting ga patriarki, pekerja keras, dan selalu menomor satukan keluarga.”

Ada pula komentar yang menyoroti rasa aman emosional, seperti dari @impwttrnna: “Marriage is not scary if your husband is Yang Gwan-Shik.”

Bahkan komentar yang penuh doa pun bermunculan, misalnya @meinyouheart_: “Pertemukan hamba dengan lelaki yang sifatnya kek Gwan Shik ya Allah.”

Komentar-komentar ini memperlihatkan betapa kuatnya penerimaan audiens khususnya perempuan terhadap representasi maskulinitas yang lembut, empatik, dan penuh ketulusan.

Exit mobile version