Opini

Fenomena Gwan Shik di TikTok: Ketika Perempuan Menemukan Standar Baru Laki-Laki Ideal

20
Gwan Shik dalam drama When Life Gives You Tangerines
Gwan Shik dalam drama When Life Gives You Tangerines. (f/netflix)

Pada platform TikTok, persona seperti ini langsung dikategorikan oleh audiens perempuan sebagai “green flag” bahkan “green forest”, karena menghadirkan sifat-sifat positif dalam hubungan (Aidha & Setyawan, 2024).

Bagi banyak perempuan, Gwan Shik mencerminkan bentuk maskulinitas yang aman, penuh penghargaan, dan setara. Dengan kata lain, ia menawarkan alternatif terhadap maskulinitas tradisional yang selama ini dominan dan kadang membebani perempuan.

ADVERTISEMENT

Pergeseran Maskulinitas Tradisional ke Soft Masculinity

Fenomena viralnya karakter Gwan Shik di TikTok memperlihatkan bagaimana perempuan di era digital tidak lagi pasif dalam menerima representasi laki-laki. Mereka tidak hanya menikmati konten, tetapi aktif menilai, membandingkan, dan memilih bentuk maskulinitas yang mereka anggap paling sehat secara emosional.

Dalam hal ini, Gwan Shik menjadi contoh nyata dari representasi soft masculinity, sebuah bentuk maskulinitas yang menekankan kelembutan, empati, rasa aman, dan kedekatan emosional tanpa menghilangkan tanggung jawab serta komitmen.

Sebagian besar perempuan menyambut representasi soft masculinity ini sebagai standar baru yang lebih manusiawi dan setara. Mereka melihat bahwa pria yang mampu menunjukkan kerentanan, mendengarkan pasangan, dan hadir secara emosional jauh lebih relevan dengan kebutuhan relasional perempuan masa kini.

Namun, sebagian lainnya tetap bertahan pada standar maskulinitas tradisional yang dianggap lebih realistis dalam konteks ekonomi dan budaya, sehingga memunculkan negosiasi dan perdebatan di kolom komentar TikTok.

Pada akhirnya, fenomena ini bukan sekadar tentang seorang karakter drama, tetapi tentang bagaimana TikTok menjadi ruang sosial bagi perempuan untuk mendefinisikan ulang maskulinitas yang mereka inginkan.

Gwan Shik mungkin hanyalah tokoh fiksi, tetapi representasinya menghadirkan bentuk soft masculinity yang terasa aman, suportif, dan penuh keterhubungan emosional, jenis laki-laki yang dianggap layak dicintai dan layak dijadikan standar oleh perempuan generasi sekarang.

Penulis, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas (Unand) Padang

(*)

Exit mobile version