Opini

Politik di Ujung Jari: Antara Kesadaran Digital dan Ilusi Partisipasi

481
Ilustrasi politik di ujung jari
Ilustrasi.

Di era ketika layar ponsel menjadi panggung utama kehidupan sosial, politik pun kini ikut berpindah ke sana. Dari ruang rapat hingga ruang obrolan daring, dari baliho di jalan hingga unggahan di Instagram, politik kini berada di ujung jari kita.

Oleh : Tiara Agnesia

Mjnews.id – Tapi pertanyaannya, apakah partisipasi digital ini benar-benar mencerminkan kesadaran politik yang matang, atau justru hanya menciptakan ilusi partisipasi semu yang meninabobokan?

ADVERTISEMENT

Perubahan besar dalam lanskap politik digital memang tak bisa diabaikan. Media sosial telah menjadi arena baru bagi warga negara untuk bersuara, mengkritik, dan menuntut perubahan. Di Twitter (kini X), tagar bisa menjadi bentuk protes; di TikTok, narasi politik dibungkus dengan humor dan visual kreatif; di Instagram, opini publik dirangkai dalam carousel infografis yang estetis. Semua tampak hidup dan penuh semangat.

Tapi di balik gemerlapnya keterlibatan itu, ada tanda tanya besar: apakah kita benar-benar berpartisipasi, atau sekadar merasa sudah berpartisipasi?

Fenomena ini sering disebut sebagai “clicktivism”, sebuah istilah yang merujuk pada partisipasi politik berbasis tindakan sederhana seperti menekan tombol like, share, atau menandatangani petisi online. Ia muncul dari keinginan banyak orang untuk terlibat dalam isu sosial dan politik tanpa harus repot turun ke lapangan. Cukup dengan satu “like”, “share”, atau komentar pedas, seseorang sudah merasa punya kontribusi terhadap perubahan.

Namun, seperti yang dikatakan banyak pengamat politik, partisipasi digital sering kali berhenti di permukaan. Ia jarang bertransformasi menjadi gerakan nyata atau keputusan politik yang berdampak langsung.

Menurut Max Halupka (2014) dalam artikelnya Clicktivism: A Systematic Heuristic yang diterbitkan di jurnal Policy & Internet, clicktivism merupakan bentuk keterlibatan politik digital yang bersifat “low-effort participation”, partisipasi berbiaya rendah yang mudah dilakukan namun tidak selalu menghasilkan dampak politik yang substansial. Artinya, seseorang bisa merasa telah berkontribusi pada perubahan sosial, padahal aktivitasnya mungkin berhenti di dunia maya saja (Halupka, 2014).

Politik digital memang memberikan ruang kebebasan luar biasa. Siapa pun bisa bersuara tanpa harus punya posisi, jabatan, atau akses ke media besar. Demokratisasi informasi ini adalah anugerah bagi masyarakat modern.

Namun, kebebasan itu juga membawa paradoks: banjir informasi membuat batas antara fakta dan opini makin kabur. Algoritma media sosial, yang bekerja untuk mempertahankan atensi pengguna, justru menjerumuskan kita ke dalam “echo chamber”, ruang gema di mana kita hanya mendengar pendapat yang sejalan dengan pikiran sendiri. Akibatnya, dialog yang sehat sering tergantikan oleh polarisasi dan kebisingan digital.

Di titik ini, partisipasi politik digital berubah dari alat pemberdayaan menjadi alat distraksi. Orang lebih sibuk membangun citra politik ketimbang membangun kesadaran politik. Kita menemukan banyak “pejuang moral” musiman, yang berteriak lantang di media sosial saat isu sedang viral, tapi hilang saat momentum berlalu. Isu-isu penting seperti korupsi, hak asasi manusia, atau krisis iklim sering kalah pamor dari perdebatan soal gaya hidup pejabat atau drama politik di televisi.

Namun, menyalahkan media sosial sepenuhnya tentu tak adil. Ia hanyalah alat, cermin dari bagaimana masyarakat memakainya. Di tangan orang yang sadar, media sosial bisa menjadi senjata perubahan. Kita telah melihat banyak contoh: dari gerakan #ReformasiDikorupsi, kampanye lingkungan yang menggugah, hingga dukungan publik terhadap korban ketidakadilan. Semua itu lahir dari ruang digital yang hidup. Masalahnya bukan pada platformnya, melainkan pada kesadaran penggunanya.

Exit mobile version