Opini

Antara Jarak dan Suara yang Tertinggal: Mahasiswa Rantau dan Percakapan Lima Menit

198
Ilustrasi Mahasiswa Rantau
Ilustrasi. (f/ist)

Teknologi dan Ilusi Kedekatan

Telepon genggam membuat jarak terasa lebih pendek. Namun tidak benar-benar menghapusnya.
Pesan instan dan video call menghadirkan ilusi kedekatan, seolah rumah bisa hadir dalam layar kecil. Tetapi di balik itu, ada kesadaran bahwa setelah panggilan berakhir, yang tersisa tetap kamar kos yang sunyi.

Di situlah mahasiswa rantau belajar sesuatu yang tidak tertulis di ruang kuliah: bahwa kedekatan dan jarak bisa hidup berdampingan.

ADVERTISEMENT

Antara Mandiri dan Ingin Pulang

Merantau sering kali dipahami sebagai proses pendewasaan. Belajar hidup sendiri, mengatur waktu, dan menghadapi dunia tanpa selalu bergantung pada keluarga.

Namun kemandirian tidak menghapus keinginan untuk pulang. Ia hanya berdampingan dengan rasa rindu yang terus dijaga dalam bentuk-bentuk kecil: pesan singkat, panggilan malam, atau suara yang hanya terdengar beberapa menit sebelum tidur.

Pada akhirnya, mahasiswa rantau tidak benar-benar meninggalkan rumah. Mereka hanya memindahkan cara untuk menjangkaunya.

Dan di antara jarak yang panjang itu, ada percakapan singkat yang tetap bertahan tidak panjang, tidak selalu sempurna, tetapi cukup untuk membuat seseorang merasa tidak sendirian.

Kadang hanya lima menit suara dari rumah sudah cukup untuk membuat seseorang tetap utuh menjalani hari-hari di perantauan.

Penulis, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas (Unand) Padang

(*)

Exit mobile version