Mjnews.id – Malam itu, angin berembus pelan menyusuri halaman Masjid Nurul Falah. Lampu-lampu masjid memantulkan cahaya hangat ke wajah para jemaah yang duduk bersaf, sebagian masih menggenggam tasbih, sebagian lagi memeluk anak-anak yang mulai mengantuk di pangkuan ibu mereka.
Ramadan memasuki hari ketujuh. Malam kedelapan tarawih. Waktu yang bagi banyak orang terasa biasa, tetapi bagi warga Jorong Candra Kirana, Nagari Sungai Duo, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, malam itu terasa berbeda.
Langkah-langkah tamu dari kabupaten terdengar pelan di pelataran. Tim IV Safari Ramadan (TSR) yang dipimpin Penjabat Sekretaris Daerah, Jasman Rizal, akhirnya tiba. Bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan pertemuan yang dinanti sebuah tanda bahwa pemerintah masih ingin duduk sejajar dengan rakyatnya, di atas sajadah yang sama.
Di barisan depan, Wali Nagari Sungai Duo, Ali Amran, berdiri dengan suara yang sedikit bergetar. Bukan karena gugup, melainkan karena rasa haru yang sulit disembunyikan.
“Kami mewakili masyarakat mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah yang telah mengirim tim Safari Ramadan ke tempat ini,” ucapnya, disambut anggukan jemaah Masjid Nurul Falah.
Empat wali nagari hadir malam itu. Mereka datang bukan membawa jabatan, tetapi membawa harapan. Harapan agar silaturahmi yang terjalin tak berhenti pada kunjungan tahunan, melainkan menjadi jembatan panjang antara kebijakan dan kebutuhan rakyat.
Jasman Rizal membuka sambutannya dengan tenang, seperti seorang orator yang paham betul bahwa Ramadan bukan waktu untuk retorika kosong. Ia menyampaikan bahwa tahun ini Pemerintah Kabupaten Dharmasraya menurunkan empat Tim Safari Ramadan ke masjid-masjid di sebelas kecamatan di Ranah Cati Nan Tigo.
Namun yang lebih penting dari jumlah tim dan jadwal kunjungan adalah maknanya.
“Kehadiran kami untuk mempererat silaturahmi. Agar hubungan pemerintah dan masyarakat menjadi kekuatan bersama membangun Dharmasraya yang lebih baik,” tuturnya.
Di antara lantunan ayat dan gema takbir, kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi bagi warga desa yang setiap hari bergulat dengan akses jalan, harga hasil tani, biaya sekolah, dan kebutuhan hidup yang kian berat, kata “silaturahmi” berarti lebih dari sekadar berjabat tangan. Ia berarti didengar.
Sejalan dengan program dan kegiatan yang mengacu kepada Visi dan Misi Daerah periode 2025-2030 yakni “Mewujudkan Dharmasraya Sejahtera dan Merata”. Infrastruktur, tata kelola pemerintahan yang transparan, pelestarian lingkungan, pembangunan sumber daya manusia, hingga penguatan nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah semuanya terdengar seperti janji besar yang menggema di dinding masjid.
Tetapi malam itu, janji-janji tersebut tidak melayang di udara. Ia diturunkan dalam bentuk yang lebih nyata.












