pemkab muba
BeritaInternasionalKabupaten Dharmasraya

Jejak Emosional Pemuda ASEAN di Ranah Minang dan Peran Sunyi Dharmasraya yang Tak Banyak Tercatat

860
×

Jejak Emosional Pemuda ASEAN di Ranah Minang dan Peran Sunyi Dharmasraya yang Tak Banyak Tercatat

Sebarkan artikel ini
Sekretaris KNPI Dharmasraya, Rifdal Fadli bersama KNPI Sumatera Barat di pertemuan Forum Pemuda ASEAN 2025
Sekretaris KNPI Dharmasraya, Rifdal Fadli bersama KNPI Sumatera Barat di pertemuan Forum Pemuda ASEAN 2025. (f/ist)

Seorang pemuda Kamboja bercerita tentang sulitnya mengembangkan organisasi pemuda di desa terpencil. Delegasi Indonesia dari Sumbar mengangguk karena mereka merasakannya juga. Lalu delegasi Myanmar menceritakan tentang ketakutan hidup di negara konflik. Ruang itu menjadi senyap. Ada yang menunduk. Ada yang menggenggam tangan temannya.

Beberapa menit kemudian, seorang pemuda Dharmasraya berkata pelan. “Kadang, menjadi pemuda bukan tentang punya semua jawaban. Tapi tentang tidak menyerah mencari jalan,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

Malam itu, tanpa panggung, tanpa pamflet, Forum Pemuda ASEAN menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dari konferensi. Ia menjadi tempat pulang bagi cerita-cerita yang selama ini tidak memiliki rumah.

Pada hari terakhir, ketika para delegasi kembali ke Bandara BIM untuk pulang ke negara masing-masing, beberapa dari mereka menangis. Bukan karena sedih meninggalkan forum, tetapi karena merasa mereka baru saja kehilangan sesuatu kehangatan Minang yang tidak mereka dapatkan di kota lain yang pernah mereka kunjungi.

Seorang delegasi Vietnam memeluk panitia sambil berbisik. “Kami datang sebagai peserta. Kami pulang sebagai keluarga,” bisiknya.

Sumatera Barat Berhasil Menjadi Tuan Rumah

Sumatera Barat tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi menjadi ruang lahirnya proyek sosial baru, kolaborasi antar-UMKM pemuda, pertukaran budaya, dan komitmen jangka panjang tentang SDGs, Sustainable Development Goals atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan,

Dan jauh di sudut cerita, Dharmasraya telah menaruh batunya sendiri dalam pondasi itu sunyi, tetapi kokoh.

Namun sisi terdalam dari forum ini tidak terletak pada politiknya. Ia terletak pada manusia-manusia yang bertemu di dalamnya.

Pemuda dari negara berbeda yang tertawa bersama. Berbagi trauma. Saling menguatkan. Saling membuka mata tentang apa arti menjadi pemuda hari ini dalam dunia yang semakin cepat, semakin keras, dan semakin tidak pasti.

Forum Pemuda ASEAN 2025 bukan hanya pertemuan internasional. Ia adalah refleksi tentang masa depan tentang siapa yang akan mengisi ruang-ruang kosong dalam sejarah nanti.

Dan Minangkabau, dengan segala kehangatan dan kebijaksanaan budayanya, berhasil menjadi tuan rumah bukan hanya bagi acara besar, tetapi juga bagi hati orang-orang yang datang.

(sutan)

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT