Mjnews.id – Bagi warga Nagari Sungai Duo dan Nagari Batu Rijal, suara rintik hujan selalu jadi pertanda gelisah. karena genangan akan datang. Parit meluap. Sawah kebanjiran. Halaman rumah berubah lumpur.
Tapi pagi itu berbeda. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, air mengalir dengan tertib. Tidak ada tumpukan di ujung parit. Tidak ada luapan yang mengepung rumah warga. Seorang ibu di Sungai Duo bahkan sempat terduduk di ambang pintu rumahnya, matanya berkaca-kaca.
“Alhamdulillah akhirnya tidak banjir lagi,” bisiknya pelan.
Ungkapan syukur seperti itu hari itu terdengar di banyak sudut kampung. Dari ladang, dari tepian jalan, dari warung kopi kecil. Seolah kampung menemukan napas baru setelah sekian lama menahan sesak.
Di balik perubahan sederhana namun berarti itu, terdapat satu nama yang berulang-ulang disebut warga, Sutan Varel Oriano, SH, kader terbaik PDI Perjuangan Kabupaten Dharmasraya yang kini duduk di DPRD Sumatera Barat.
Bukan karena ia datang membawa rombongan. Bukan karena kamera televisi. Tapi karena apa yang ia kerjakan benar-benar menyentuh kebutuhan paling dasar masyarakat, mengalirkan harapan dari parit kecil.
Dalam kondisi anggaran provinsi yang ketat, banyak program tertunda atau dipangkas. Tetapi bagi Varel, kesejahteraan masyarakat tidak boleh ikut dikurangi nilainya. Jabatan Sekretaris Komisi II DPRD Sumbar tidak membuatnya sibuk dengan formalitas dan agenda protokoler.
Dana Pokir untuk Pembangunan Drainase dan Saluran Tersier
Ia memilih jalan yang lebih senyap, lebih sunyi, tapi lebih terasa mengalokasikan dana pokok pikiran (Pokir) untuk pembangunan drainase dan saluran tersier, dua kebutuhan yang selama ini menjadi titik rapuh bagi warga Sungai Duo dan Batu Rijal.
“Putra terbaik Dharmasraya itu tetap berupaya keras memenuhi kebutuhan masyarakat berupa pembuatan drainase dan saluran tersier,” kata Basuki, Ketua Kelompok Tani Sungai Duo, kepada media Mjnews.id, 4 Desember 2025, di Sitiung.
Basuki mengingat betul bagaimana selama bertahun-tahun masyarakat hanya bisa berharap-harap cemas setiap musim hujan tiba. Keluhan sudah disampaikan, proposal sudah diajukan. Tetapi realisasi selalu kandas dalam birokrasi yang terasa terlalu jauh.
Ketika Varel datang pada tahun pertama menjabat, ia tidak banyak bicara. Ia mendengar. Ia mencatat. Ia kembali dengan keputusan, “Kita kerjakan”.
