BaznasBeritaKabupaten Dharmasraya

Saat Duka Menyelubungi Sumbar, Baznas Dharmasraya Datang Membawa Harapan

1023
Tim Baznas Dharmasraya serahkan bantuan untuk korban bencana alam Sumatera Barat
Tim Baznas Kabupaten Dharmasraya serahkan bantuan untuk korban bencana alam Sumatera Barat. (f/ist)

Mjnews.id – Pada sebuah pagi yang masih menyisakan kabut dingin di Kabupaten Tanah Datar, seorang ibu muda duduk memeluk kedua anaknya di depan bangunan yang tinggal separuh. Rumah itu tak lagi punya dinding utuh. Atapnya seperti lembaran seng yang dirobek paksa. Di balik matanya yang sayu, ada kisah panjang tentang malam yang mengubah segalanya.

“Yang penting kami selamat,” bisiknya pelan, seolah menenangkan dirinya sendiri.

ADVERTISEMENT

Ia bukan satu-satunya. Di banyak daerah di Sumatera Barat, Tanah Datar, Agam, Padang Panjang, dan sekitarnya warga masih berjuang menata hidup kembali setelah bencana datang bertubi-tubi. Hujan ekstrem, banjir bandang, dan longsor meluluhlantakkan bangunan, melumpuhkan aktivitas, dan menyisakan trauma yang belum selesai.

Baznas Dharmasraya Datang Membawa Harapan

Di tengah kepiluan itu, datang rombongan kecil dengan rompi kuning yang mencolok. Mereka bukan pejabat yang membawa protokol ketat. Mereka bukan pula relawan sesaat yang datang hanya untuk foto-foto lalu pergi. Mereka adalah orang-orang yang membawa amanah dari masyarakat Dharmasraya amanah berupa kepedulian.

Mereka adalah Tim Baznas Kabupaten Dharmasraya, yang datang dengan langkah tenang, tapi membawa harapan besar.

Kedatangan Baznas bukanlah perjalanan biasa. Ada proses panjang di belakangnya, menghimpun zakat dan infak masyarakat, mengelola hingga tepat sasaran, dan memastikan bahwa setiap rupiah yang diamanahkan benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan.

Total bantuan yang mereka bawa mencapai Rp80 juta, disalurkan langsung ke Baznas kabupaten/kota yang terdampak bencana. Selain itu, mereka membawa 1 ton beras, yang siap dibagikan kepada warga yang kini hidup di pengungsian maupun bertahan di rumah tanpa kepastian makanan harian.

Jumlah itu mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan besarnya dampak bencana. Tetapi di balik angka itu, ada sumbangan pedagang kecil yang menyisihkan beberapa ribu rupiah dari hasil jualan. Ada zakat profesi seorang guru honorer. Ada infak diam-diam seorang perantau yang tak pernah mau menyebut nama. Dan ada doa panjang dari mereka yang berharap bantuan itu menjadi cahaya bagi saudaranya di wilayah yang dilanda musibah.

“Ini bukan soal besar kecilnya bantuan,” ujar Wakil ketua1 Bidang Pengumpulan Zakat Infaq Sedekah (ZIS) Ridwan Syarif, S.Ag, Datuak Majo Kayo, Baznas Dharmasraya saat menyerahkan bantuan.

“Ini soal rasa persaudaraan. Soal meyakinkan bahwa kita tidak membiarkan mereka menghadapi bencana sendirian.”

Kalimat sederhana itu sering menjadi penguat bagi warga yang menerima.

Exit mobile version