Namun, dukungan media tentu tidak lahir dari seruan semata. Ia tumbuh dari akses informasi yang terbuka, data yang bisa diverifikasi, dan ruang kritik yang dihargai. Di situlah kualitas kemitraan diuji bukan hanya dalam suasana hangat berbuka puasa, tetapi juga saat muncul peristiwa yang sensitif dan membutuhkan keberanian untuk transparan.
Ketika azan magrib berkumandang, gelas-gelas terangkat, dan percakapan kembali mengalir dalam suasana yang lebih cair. Tetapi di balik itu semua, ada harapan yang lebih besar, terbangunnya komunikasi yang konsisten, bukan musiman.
Di bulan yang mengajarkan tentang kejujuran dan pengendalian diri ini, pertemuan antara polisi dan wartawan menjadi pengingat bahwa keamanan dan informasi adalah dua sisi mata uang yang sama. Tanpa keamanan, masyarakat resah. Tanpa informasi yang jernih, masyarakat gelisah.
Dan di antara resah dan gelisah itulah, kepercayaan publik dipertaruhkan.
Ramadan mungkin akan berlalu. Meja-meja buka puasa akan kembali kosong. Tetapi komitmen keterbukaan dan sinergi jika sungguh dijaga akan tetap menjadi fondasi penting bagi Dharmasraya yang lebih transparan dan berkeadaban. Dan Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Buya Purwanto dari Blok B Sitiung I.
(sutan)
