Secara teknis, Sigit Widatmoko memproyeksikan, energi panas bumi Geothermal Bonjol di kisaran maksimum 150 derajat celcius, atau tingkat ‘medium low’ (tegangan menengah rendah), dengan kapasitas energi listrik yang dihasilkan hingga 35 Kv (35.000 Volt).
“Energi uap panas inilah yang akan menggerakkan turbin guna menghasilkan listrik. Namun prosesnya masih lama, butuh waktu hingga 7 tahun ke depan, atau sekitar 2032 nanti,” jelasnya.
Menurutnya, pengeboran akan dilakukan di dua lokasi yang direncanakan, yaitu Bonjol 1 (Kampung Tampang) dan Bonjol 3 (Sungai Limau).
“Pembangunan Tapak Sumur sudah dilaksanakan Maret lalu, termasuk pembangunan kolam pengolahan limbah lumpur hasil pengeboran,” jelas Sigit, sembari mengungkap kedalaman pengeboran pada tahap awal mencapai 1 Km ke dalam perut bumi.
Acara sosialisasi di Kantor Camat Bonjol Rabu siang tadi, dirangkai dengan forum diskusi antara masyarakat dan PT MGSu yang dimediatori Pemkab Pasaman. Diskusi bertujuan untuk mengakomodir kepentingan masyarakat yang belum tuntas dan mengungkap secara transparan progres yang telah direalisasikan PT MGSu.
Selain dihadiri langsung Bupati Pasaman, diskusi cukup alot itu juga dihadiri Kepala OPD teknis Pemkab Pasaman, LKAM Kabupaten Pasaman, camat dan forkopimca serta wali nagari se Kecamatan Bonjol, Ketua KAN, Ketua Bamus, Ninik Mamak dan Tokoh Masyarakat serta unsur Pemuda Nagari Ganggo Mudiak. —
(*/eds)
