Mjnews.id – Musim kemarau panjang yang dirasakan masyarakat Kota Sawahlunto akhir-akhir ini, memberikan dampak yang kurang maksimal terhadap pendistribusian air bersih ke pelanggan.
Hal ini diakui Direktur PDAM Kota Sawahlunto, Julmardizon kepada media, Kamis 28 Agustus 2025.
Dalam konfirmasinya, Julmardizon mengatakan, pendistribusian air yang kurang maksimal ke pelanggan khususnya di wilayah Kecamatan Barangin, dikarenakan Pompa Rantih hanya memiliki kemampuan 24 liter per detik dalam menarik air ke Bak Tampungan Kayu Gadang sehingga pendistribusian air ke pelanggan harus digilir.
“Di saat musim kemarau seperti saat ini, memang yang dibutuhkan adalah penambahan pompa air yang di Rantih, karena selama ini kita hanya menggunakan pipa kecil yang ukuran 24/detik, dan itu seharusnya hanya boleh beroperasi 12 jam untuk sekarang menjadi 20 jam, dan jika tidak dilakukan air tidak akan mengalir ke masyarakat dan jika ini terus dipaksakan, takutnya akan berdampak pada kerusakan alat,” papar Direktur menjelaskan.
Terkait pompa besar yang dibutuhkan pihak PDAM, Direktur menjelaskan, pihaknya membutuhkan pompa yang memiliki kekuatan 70 liter per detiknya dengan kisaran harga sebesar Rp6,3 miliar.
“Hal itu sudah kami sampaikan kepada Wali Kota, dan kami juga sudah melakukan pengajuan pompa tersebut, Namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda. Jika dalam tahun ini pompa tersebut tidak didapatkan, saya tidak menjamin 3.500 pelanggan di Kecamatan Barangin ini akan terancam kekeringan, karena kita kan juga tidak tahu jika mesin pompa ini terus dipakai akan ada juga masanya untuk rusak. Jika saja ada satu pompa cadangan, tentu bisa mengantisipasi hal hal yang tidak kita inginkan,” imbuhnya lagi.
Direktur meminta Pemerintah Kota Sawahlunto dan seluruh stakeholder untuk lebih serius lagi dalam penanganan air ini karena ini sangat menyangkut hajat hidup orang banyak.
Selain itu beban keuangan PDAM juga semakin berat. Tagihan listrik yang biasanya Rp 220 juta per bulan melonjak menjadi Rp 265 juta. Bahkan, hingga Agustus 2025, PDAM masih terhutang sebesar Rp 109 juta kepada Koperasi PLN.
“Kalau dari sisi pelayanan, kami sudah berusaha seoptimal mungkin. Tapi jika tidak ada perhatian serius dari Pemkot, sulit rasanya bagi kami PDAM untuk bertahan. Warga menjadi korban setiap kemarau, sementara kami terbebani biaya operasional yang makin tinggi,” pungkas Direktur.
(Uni)
