Mjnews.id – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Sawahlunto menggelar Senam Kerukunan Umat Beragama, Selasa (11/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat silaturahmi sekaligus meneguhkan semangat toleransi dan kebersamaan antarumat beragama di Kota Sawahlunto.
Senam kerukunan itu diikuti sejumlah perwakilan lintas agama. Dari umat Kristen Protestan hadir Pendeta Romson Pakpahan dan Ny. Pendeta Manurung. Sementara dari umat Katolik hadir Erna Susi Br. Manalu, S.Pd., Vincensia Gita, serta Kurnia Debara S., yang merupakan guru SD Santa Lucia Katolik.
Kehadiran perwakilan umat beragama dalam kegiatan Kemenag tersebut menjadi gambaran nyata bahwa kerukunan tidak hanya dibangun melalui pesan dan slogan, tetapi juga melalui interaksi serta kegiatan bersama.
Dalam kesempatan yang sama, Kemenag Kota Sawahlunto menyerahkan piagam penghargaan kepada SD Santa Lucia sebagai bentuk apresiasi atas partisipasinya dalam Semarak Islami Kementerian Agama Kota Sawahlunto.
SD Santa Lucia diketahui turut ambil bagian dalam cabang lomba Asmaul Husna yang digelar pada 3–4 Agustus 2026 dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kasubbag Tata Usaha Kemenag Kota Sawahlunto, H. Mustatir, S.Pd.I., M.Pd., mengapresiasi keterlibatan umat Kristiani dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan Kemenag.
Menurutnya, partisipasi lintas agama tersebut menunjukkan hubungan yang harmonis serta toleransi yang telah tumbuh dan terjaga di tengah masyarakat Kota Sawahlunto.
“Kerukunan umat beragama di Kota Sawahlunto patut kita apresiasi. Keterlibatan umat Kristiani dalam berbagai kegiatan Kemenag menunjukkan bahwa toleransi dan kebersamaan terus terjaga,” ujarnya.
Ia berharap semangat kebersamaan tersebut terus dipelihara melalui berbagai kegiatan lintas agama. Dengan demikian, kerukunan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Senam Kerukunan Umat Beragama juga menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi dan membangun kedekatan antarelemen masyarakat. Pesan yang dibawa sederhana namun penting: perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk membangun persaudaraan, menjaga kedamaian, dan merawat kebersamaan.
Di tengah keberagaman masyarakat Sawahlunto, kegiatan semacam ini menjadi salah satu bentuk nyata upaya menjaga ruang dialog dan interaksi antarumat beragama. Kerukunan pun diharapkan terus tumbuh bukan karena semua orang memiliki keyakinan yang sama, melainkan karena mampu saling menghormati di tengah perbedaan.
(Uni)
