Pada 2023 lalu, tercatat ada 113 kasus suspek akreta di Sumbar, 60 di antaranya terdiagnosis dan 1 berujung kematian. Sementara pada 2024, sudah tercatat 80 kasus suspek, dengan 55 di antaranya terdiagnosis dan 1 berujung kematian.
“Saat ini, rumah sakit rujukan regional untuk penanganan plasenta akreta dan kasus fetomaternal di Sumatera Barat adalah Rumah Sakit Universitas Andalas, belum ada yang lain, tentu ini menjadi tantangan bagi kita,” ungkap Mahyeldi.
Selain masalah plasenta akreta, kanker serviks juga menjadi tantangan bagi kesehatan reproduksi di Indonesia. Tentu peran para ahli Obgyn sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.
Sementara itu, hal yang sama juga disampaikan oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Prof. Afriwaldi. Menurutnya, kasus plasenta akreta perlu menjadi perhatian seluruh pihak. Sebab, telah menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu melahirkan di Indonesia.
“Melalui forum ini, kita harapkan dapat meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan khusus reproduksi. Agar kualitas layanan di Indonesia menjadi semakin meningkat,” harapnya.
(adpsb)






