BeritaSumatera Barat

Tata Lingkungan Sumbar Harus Berbasis Daya Dukung dan Daya Tampung Pascabencana

18
Rapat Koordinasi Teknis Tata Lingkungan Tahun 2026 di Universitas Andalas Kota Padang
Rapat Koordinasi Teknis Tata Lingkungan Tahun 2026 di Universitas Andalas Kota Padang

Sementara itu, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono menyampaikan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan pendekatan dari hulu hingga hilir. Ia menjelaskan, pemerintah tengah mendorong berbagai solusi, termasuk *waste-to-energy* (WTE) dan *Refuse Derived Fuel* (RDF). Untuk daerah dengan timbulan sampah di bawah 1.000 ton per hari, RDF dapat menjadi salah satu alternatif dengan memanfaatkan sampah sebagai bahan bakar bagi industri semen. Ia juga menekankan pentingnya pemilahan sampah dari sumber karena teknologi pengolahan di hilir tidak akan optimal apabila sampah masih tercampur.

Diaz juga mengingatkan pentingnya penghentian praktik *open dumping*, penguatan tanggung jawab produsen melalui *Extended Producer Responsibility*, serta peningkatan perhatian terhadap pengelolaan sampah dalam penilaian PROPER dan Adipura. Menurutnya, target pengelolaan sampah secara menyeluruh membutuhkan perubahan perilaku masyarakat sekaligus komitmen pemerintah daerah.

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut, Gubernur menegaskan bahwa Sumatera Barat harus dipandang sebagai satu kesatuan ekologis. Lingkungan tidak mengenal batas administrasi, sehingga pengelolaan hulu, tengah dan hilir harus dilakukan secara terpadu. Ia juga mengingatkan bahwa hutan, DAS, mangrove, gambut dan kawasan lindung bukan hambatan pembangunan, melainkan infrastruktur alam yang menopang keberlanjutan pembangunan.

“Jangan hanya membangun kembali apa yang hilang, tetapi bangun kembali dengan mengurangi risiko. Jangan hanya menghasilkan dokumen, pastikan pengetahuan menjadi keputusan dan keputusan menjadi tindakan,” kata Mahyeldi.

Ia menambahkan, pembangunan berkelanjutan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, serta generasi muda. Hasil kajian lingkungan harus menjadi dasar pengambilan keputusan, sementara prinsip satu data, satu peta dan satu basis pengetahuan lingkungan perlu diperkuat agar seluruh pihak memiliki informasi yang sama dalam merencanakan pembangunan.

Di hadapan para akademisi dan mahasiswa, Mahyeldi mengajak perguruan tinggi mengambil peran lebih besar dalam merancang masa depan lingkungan Sumatera Barat. Menurutnya, kampus tidak hanya menjadi tempat menghasilkan pengetahuan, tetapi juga harus menjadi bagian dari solusi terhadap persoalan lingkungan dan kebencanaan.

“Kita tidak ingin memilih antara pembangunan dan lingkungan. Kita ingin pembangunan yang tumbuh karena lingkungan dijaga, dan lingkungan yang terjaga karena pembangunan dilakukan dengan benar,” pungkasnya. (adpsb)

Exit mobile version