banner pemkab muba
Padang PanjangSumatera Barat

Begini Cara Sukirno Mengolah Tahu Secara Tradisional

212
×

Begini Cara Sukirno Mengolah Tahu Secara Tradisional

Sebarkan artikel ini
Sukirno Mengolah Tahu Secara Tradisional
Sukirno Mengolah Tahu Secara Tradisional. (kominfo)

Padang Panjang, Mjnews.id – Olahan kedelai menjadi produk tahu ini, banyak diminati masyarakat. Tak hanya rasanya yang lembut gurih, tapi juga mengandung protein yang cukup tinggi. Lalu bagaimana proses pembuatannya?
Secara umum tahu yang dijual di pasaran masih banyak yang dibuat dengan cara tradisional. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat tahu, terdiri dari kacang kedelai, air bersih dan air biang tahu.
Biang tahu merupakan air sisa pembuatan tahu yang sudah berumur 1-2 hari. Untuk pembuatan pertama, penggumpal yang digunakan adalah asam cuka (asam asetat) pekat sekitar 98-99 persen.
Usaha Tahu Rumahan Pak Sukirno yang beralamat di Jalan Hos Cokroaminoto, Kelurahan Silaing Atas, Kecamatan Padang Panjang Barat, masih mempertahankan cara tradisional untuk memproduksi tahu. Tungku berbahan bakar kayu masih dipakai di sini.
Sukirno mempercayai bahwa makanan yang dimasak menggunakan tungku, lebih harum dan nikmat dibandingkan makanan yang dipanaskan di atas api yang berasal dari kompor minyak atau kompor gas.
Tim Kominfo berkesempatan untuk menyambangi dapur pabrik tahu rumahan yang berada tepat di bawah Rumah Produksi Sanjai Upik ini.
Di dapur tersebut, Sukirno (60) didampingi istrinya, Zainab (55) bertugas memastikan proses pembuatan tahu berlangsung dengan baik. Dikatakannya, langkah pertama yang harus dikerjakan ketika ingin membuat tahu adalah mencuci kedelai yang dipakai sebagai bahan baku.
Saat proses mencuci itu, usahakan air terus mengalir sambil membersihkan kedelai dari tanah-tanah yang tersisa.
“Kedelai direndam dalam air bersih dengan tujuan agar kedelai mengembang dan lebih mudah untuk digiling. Perendaman dilakukan sekitar 4-5 jam. Saat digiling, ditambahkan sedikit air hingga menghasilkan tekstur yang halus seperti bubur,” ungkapnya.
Kedelai yang sudah halus, lalu dimasak dalam tungku besar hingga mendidih. Selama proses memasak perlu ditambahkan air dan diaduk agar tidak terjadi buih. Pada proses ini, api kompor harus terus dijaga agar tidak padam. Api yang mati akan menyebabkan kelezatan tahu berkurang.
“Untuk tahu yang enak, perebusan berlangsung selama setengah jam dengan api kecil. Jangan lama-lama merebusnya, nanti sari pati kedelai basi. Apinya juga harus diatur nyalanya,” ujar Sukirno sambil merebus kedelai yang telah selesai digilingnya.
Setelah mendidih dan matang, pati rebusan kacang kedelai dibubuhi biang atau bibit tahu Saripati kedelai itu dinamakan tahu muda. Tahu muda lalu dituangkan dalam wadah untuk memudahkan mencetak tahu kotak.
“Adonan yang sudah matang kemudian disaring dengan kain saring tahu dan diperas. Cara ini akan menghasilkan ampas tahu. Tahu yang sudah disaring ini berbentuk seperti sari kedelai dan ditambahkan larutan pengendap (air biang) sedikit demi sedikit sambil diaduk perlahan,” lanjutnya.
Satu adonan tahu muda diarahkan untuk masuk ke dalam kain kasa sebagai alat pembentuk tahu. Bakal calon tahu yang masih diselimuti kain kasa, lalu ditekan menggunakan alat pres yang beroperasi secara manual. Menggunakan pemberat kayu dan tangan sebagai pemberatnya.
“Air dalam tahu muda akan merembes melalui celah-celah kain. Setelah air tertekan keluar semua, barulah bungkus kain kasa dilepas. Jadilah tahu yang masih mentah. Setelah itu tahu akan dipotong-potong sesuai dengan ukuran cetakan yang telah dibuat dan tahu siap untuk diedarkan ke pasaran,” ujarnya.
Menyikapi naiknya harga kedelai di pasaran saat ini, Sukirno sangat merasakan dampaknya dalam memproduksi dan memasarkan produk hasil olahannya ke pasaran. 
“Dulu itu, harga sekarung kedelai hanya Rp 250 ribu. Sekarang sudah sampai Rp 500 ribu per karung. Kalau kita naikan harga, nanti orang tidak mau membeli. Otomatis omzet berkurang,” katanya.
Meski harga bahan baku kacang kedelai naik, namun ia tetap menjual harga tahu hasil produksinya dengan harga yang sama dengan sebelumnya.
“Biasanya kita jual lima buah tahu dengan harga Rp 2.000. Meski harga kedelai naik, kita tetap jual seperti harga sebelumnya,” tuturnya.
Menurut Sukirno, kenaikan harga kacang kedelai ini, dinilai adalah hal yang biasa dalam usaha dagang. Meski untung tipis yang didapatkan, tapi dari produksi yang dilakukannya masih bisa menutupi kebutuhan produksi. “Meskipun keuntungan sangat tipis, tapi kami berusaha untuk tetap bertahan,” ucapnya.
Dia meyakini harga kacang kedelai ini tidak selamanya mahal. Nantinya akan ada masanya kembali dengan harga normal.
(RIFKI MAHENDRA – KOMINFO)

Kami Hadir di Google News

ADVERTISEMENT

banner 120x600