pemkab muba
Pesisir Selatan

Ketika Obral Caniago Bersaudara Telusuri Ladang di Tengah Rimba

264
×

Ketika Obral Caniago Bersaudara Telusuri Ladang di Tengah Rimba

Sebarkan artikel ini
Obral Caniago Bersaudara di Ladang Tengah Rimba
Obral Caniago Bersaudara di Ladang Tengah Rimba. (f/obral caniago)

Bayang, Mjnews.id – Puluhan tahun lebih sudah ladang di tengah rimbo (rimba) telah berubah menjadi semak belukar, bahkan sudah seperti hutan belantara. Karena di tengah ladang (kebun) itu tidak ada pakasieh ladang.
Tetapi, jika di tengah ladang ada pohon duren, jengkol, pala, cengkeh, atau pun manggis, maka pohon yang berbuah inilah bisa menjadikan pakasieh (tergiur) pemiliknya untuk membersihkan lahannya terus menerus dari generasi ke generasi. Tetapi jika hanya karet saja, di saat harga karet murah maka peladang meninggalkan kebunnya sampai bertahun-tahun. Apalagi generasi pertamanya sudah tiada atau telah tua, ladang di tengah rimba akan berubah menjadi hutan belantara. 
Pergeseran warga desa yang urban ke kota serta strata perubahan ekonomi dari generasi penerusnya tak meminati untuk mengurusi ladangnya karena sumber ekonominya tak lagi bersentuhan dengan ladang. 
Puluhan tahun lalu, ladang di tengah rimba merupakan menjadi rebutan sebagai sumber ekonomi masyarakat di pedesaan ini.
Usai menyadap karet pulangnya membawa kayu bakar –sekarang masyarakat di desa telah memasak menggunakan kompor gas — Sehingga ladang tak dijajaki lagi oleh pemiliknya.
Dulunya, di saat mentari pagi tiba, petani telah menyadap pohon karet di kebunnya, suara teriakan saling bersahutan sebagai pertanda tetangga ladang sedang bekerja pula di tengah kebunnya. Ladang ramai setiap hari, sebab dari ladang di tengah rimba inilah sumber penghasilan berupa rotan, rempah, karet, damar, asam kandis, sayuran, umbi umbian, bibi bijian, dan tetapi mereka lupa menanam pala, manggis, kopi, cengkeh, jengkol, cassia vera, dan kelapa. 
Tetapi kini, ladang ribuan hektare ini mulai sepi dikunjungi. Sumber penghasilan generasi penerus tidak lagi dari ladang, maka berubah menjadi hutan dan rimba. 
Alkisah, Obral Caniago (Wartawan) bersaudara, selama 34 tahun tak menapaki lagi ladang orangtuanya di Kaki Gunung Sigirik, Kampung Lubuk Begalung, Kenagarian Aur Begalung, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan.
Pada Kamis 24 Maret 2022, Obral Caniago menuju ke ladangnya di tengah rimba, bermula berjumpa dengan sebuah jembatan gantung di Kampung Lubuk Begalung di bantaran Batang Bayang.
Sungai ini jernih airnya, ikan-ikan larangan terlihat menari nari meliak liuk seperti mengucapkan selamat datang bagi orang yang menghampiri pinggiran sungai ikan larangan ini.
Penduduk yang ramah menyapa saat sedang membangun pos pengamanan ikan larangan yang baru dipindahkan ke seberang sungainya bersama Walinagari Aur Begalung, Musrial, ST, Wali Kampung Lubuk Begalung Darwas, dan Iswandi, angku datuk dari suku rang caniago Tabiang Tinggi, dan para ninik mamak dan kaum muda dari suku di kampung ini.
Karena sesuai info pos pengamanan ikan larangan baru saja diporakporandakan penduduk setempat karena mereka kecewa sanak familynya kehilangan sebuah sepeda motor di tengah malam buta. 
Untuk sampai ke lokasi ladang, terlebih dahulu menelusuri jalan usaha tani di Bukit Dama sepanjang 3 kilometer, dan sebelumnya melewati areal sawah dengan padi sedang menguning menjelang panen memasuki Bulan Puasa Ramadhan 1443 Hijriah Maret tahun 2022 ini.
Bulir padi menguning seakan berdansa ditiup angin, tangkai padi meliak liuk lemah gemulai yang bertengger dikelopah batangnya seperti menyapa kami yang melewati areal persawahan ini. 
Tak satu pun terlihat pemilik sawah seluas 1.500 hektare, padi menguning berkilau bak emas diterpa cahaya mentari. 
Sesampai di kaki Bukit Dama, bukan main terkejutnya kami yang menelusuri jalan usaha tani ini karena telah ditumbuhi semak belukar, ilalang tua bercampur paku aji setinggi orang dewasa, karena jalan usaha tani selama covid-19 tak tersentuh anggaran.
Namun, kata Walinagari Aur Begalung, Musrial, ST, jalan usaha tani sesuai rencana akan dianggarkan dari sumber dana Pokir 2 orang dewan Kabupaten Pesisir Selatan. 
Setelah sampai di kaki bukit Dama, cuaca yang begitu panas diterpa terik mentari, gemercik air sungai kecil yang jernih dan dedaunan beragam jenis pohon memayungi dapat memberikan kesejukan.
Masya Allah… ini ladangku, dulunya ditumbuhi pohon karet, tetapi kini telah berobah menjadi hutan belantara, ditumbuhi semak belukar steva dan sabana sehingga jalan setapak yang dulunya asyik ditempuh, tapi kini kami berjalan meniti di atas semak belukar. Jika tak hati-hati melewati, semak ransan dan sianik dapat melahap badan tengelam di dalam tumpukan dedaunan pohon kering dan semak belukar telah mengering.
Untung saja tidak ada tangan jahil melepas api. Puntung rokok saja jika silap membuangnya ribuan hektare hutan bisa terbakar.
Suara bunyi-bunyian dari hewan yang berlompatan dari pohon ke pohon seakan menyambut kedatangan kami saat datang berkunjung yang dulunya sebagai ladang, tapi kini telah menjadi hutan ditumbuhi kayu kayuan nan rindang. 
Lolongan hewan beruk, kera, simpai, siamang, dan tupai jonjang berteriak kencang dari pohon menjulang bikin bulu roma jadi berdiri. Suara jangkrik hutan dan kicauan burung bersiul seperti suara biola menyeruak telinga. 
Sejenak kami terengah-engah setelah melewati steva dan sabana semak belukar ini. Tetapi aku sangat menikmati sejuknya dedaunan pohon nan rindang. Pohon karet yang dulu berdiri tegar berjejer, tapi sekarang telah berpacu dengan pohon pohon lain tinggi menjulang.
Sesampai di tengah ladang, sambil coba signal internet dari ponselku ternyata dapat pula berbagai siaran akun youtube facebook, dan instagram serta info digital media sosial (Medsos) lainnya.
Sambil menikmati alunan lagu dari album original Rhoma Irama, judul lagu Berkelana, Menggapai Matahari, dan Kemilau di Langit Jingga, menambah suasana ceria kami bersama sambil membersihkan ladang dengan parang, sabit dan golok membabat semak belukar. Pohon rindang meneduhi ketika merambah steva dan sabana di puncak bukit yang landai terlihat lautan pinggir pantai di perkampungan Kecamatan Koto XI Tarusan. 
Demikian, tim telusur Obral Caniago bersaudara melihat ladang di tengah rimba.
(Obral Caniago)

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *