Mjnews.id -Rasa cemas menyelimuti para pengemudi ojek online di Kota Payakumbuh. Rencana pengoperasian 13 unit bus listrik di Kota Payakumbuh dinilai akan berdampak langsung terhadap keberlangsungan pendapatan mereka.
Kecemasan itu disampaikan langsung oleh perwakilan para pengemudi ojek online saat menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) atau hearing bersama Komisi C DPRD Kota Payakumbuh, bertempat di ruangan komisi C DPRD Payakumbuh kawasan Koto Nan Ampek Kecamatan Payakumbuh Barat, Senin siang 28 September 2026.
Dalam hearing itu,perwakilan pengemudi Online, Bayu Rivan menyampaikan keluhan dan kekhawatiran anggotanya terkait rencana masuknya 13 unit bus listrik yang akan beroperasi di Kota Payakumbuh.
“Kami dari S.P.E.E.D (Serikat Pengemudi Transportasi Online Indonesia)mewakili ratusan driver online yang ada di Payakumbuh dan Limapuluh Kota. Kami datang ke sini bukan menolak program pemerintah, tapi kami khawatir. Jika 13 unit bus listrik ini beroperasi di semua rute dalam kota, dengan tarif murah bahkan gratis, maka secara otomatis orderan kami akan mati,” kata Bayu Rivan di hadapan anggota dewan.
Bayu menjelaskan, selama ini driver online menjadi tumpuan transportasi masyarakat, terutama untuk mobilitas jarak dekat dan menengah di dalam kota. Kehadiran bus listrik dengan trayek yang tumpang tindih dikhawatirkan akan mematikan secara perlahan.
“Kami ini bukan pegawai, kami tidak digaji. Kami hidup dari orderan harian. Satu hari tidak narik, dapur kami tidak ngebul. Kami mohon kepada DPRD, tolong kaji ulang trayek dan sistem operasionalnya. Jangan sampai kemajuan transportasi justru mematikan rakyat kecil,” ungkapnya.
Para pengemudi berharap ada solusi konkret dari pemerintah daerah agar keberadaan bus listrik tidak mematikan mata pencaharian,” sebutnya.
Tindaklanjuti aspirasi pengemudi ojek online
Sementara, Ketua komisi C DPRD Payakumbuh, Fitrayanto menyatakan bahwa pihaknya memahami kekhawatiran para driver. Pihaknya berjanji akan menindaklanjuti aspirasi tersebut kepada Pemerintah Kota Payakumbuh, khususnya Dinas Perhubungan.
“Kami dari Komisi C menerima dan memahami apa yang menjadi keresahan kawan-kawan S.P.E.E.D. Tentu setiap kebijakan harus berkeadilan. Kami akan panggil Dishub untuk meminta penjelasan detail terkait konsep operasional 13 bus listrik ini, trayeknya di mana saja, dan bagaimana mitigasi dampaknya terhadap transportasi online yang sudah ada,” ujar Fitrayanto.
Ia juga menegaskan, hearing ini menjadi catatan penting bagi DPRD agar pembangunan transportasi di Payakumbuh tidak menimbulkan kecemburuan sosial.
“Kita ingin transportasi maju, tapi driver lokal juga harus tetap hidup. Harus ada win-win solution,” tutupnya.
Selain ketua komisi C Hearing tersebut juga turut dihadiri oleh 4 anggota Komisi C lainnya, di antaranya Mesrawati, Jenzuldi dan Febriadi.
(Rel/Yud)









