Harus diakui, kondisi geografis Provinsi Sumatera Barat berpotensi tinggi terhadap bencana alam. Bahkan provinsi ini dinobatkan sebagai provinsi rawan bencana nomor dua setelah Jawa Barat.
Oleh: Betsy Rivai Syarif, ST, MT
Mjnews.id – Demikian disampaikan oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMA) Muhadjir Effendy pada kegiatan puncak Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) tahun 2024.
Sebagai provinsi yang rawan bencana, maka sudah seharusnya hal tersebut menjadi warning bagi seluruh warga masyarakat Sumatera Barat terhadap antisipasi terjadinya bencana alam sekaligus menjadikan menjadikan hal tersebut masuk dalam kategori super prioritas dengan mencanangkan sadar bencana setiap harinya.
Secara teoritis, topografi daerah-daerah rawan bencana di Provinsi Sumatera Barat berada pada dataran tinggi yang bergelombang yang mayoritas keseluruhan wilayah-wilayahnya merupakan kawasan relatif landai (kemiringan di bawah 15 persen), sedangkan selebihnya merupakan kawasan miring, curam dan perbukitan, serta sering terjadi longsor akibat struktur tanah yang labil dan curah hujan yang cukup tinggi.
Kondisi inilah yang perlu dicarikan solusi dan antisipasi sejak dini. Penataan ruang dan dinamika Kabupaten/Kota hendaknya mampu diimbangi dengan mitigasi bencana yang dapat ditimbulkan dari kesalahan penataan pembangunan.
Tata Ruang sebagai salah satu bentukan dari perencanaan wilayah dan kota memiliki banyak tujuan di antaranya adalah mewujudkan keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan, serta mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
Secara khusus tata ruang memiliki kemampuan untuk mengurangi kerentanan yang terdapat di dalam suatu wilayah. Dimulai dari tahap perencanaan, pemanfaatan, hingga pengendalian, secara tidak langsung memang diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan suatu sektor ekonomi, namun tetap harus selaras dengan kondisi lingkungan dengan maksud menghindari dampak-dampak negatif yang mungkin terjadi dari pengembangan ekonomi terhadap kondisi lingkungan.
Menata Ruang untuk Mewujudkan Kota yang Bijak
Penataan ruang yang baik dalam melaksanakan pembangunan wilayah bisa menjadi benang merah jika melihat korelasi antara kejadian bencana alam dan tata ruang saat ini.












