Mjnews.id – Pemilihan Kepala Daerah, baik Pemilihan Gubernur/ Wakil Gubernur, Bupati/ Wakil Bupati, Walikota/ Wakil Walikota se Sumatera Barat (Sumbar) 2024 telah selesai dilaksanakan Rabu 27 November 2024.
Hasilnya sungguh mencengangkan, sejumlah petahana berguguran. Beda lagi, Paslon yang melawan kotak kosong menunggu hasilnya dengan harap-harap cemas.
Untuk Pilkada Gubernur Sumbar, eksistensi sang petahana teruji di panggung politik Pilkada 2024 ini. Paslon nomor urut 1, Mahyeldi Ansharullah – Vasco Ruseimy ungguli Paslon nomor urut 2, Epyardi Asda – Ekos Albar pada persentase lebih dari 70 persen.
Banyak Petahana Berguguran
Sangat menarik pada Pilkada 2024 ini, sejumlah petahana berguguran. Padahal pada Pilkada tahun ini merupakan momen krusial bagi pasangan petahana, sebab mereka memiliki keunggulan dibanding paslon lainnya.
Setidaknya, ada 9 calon kepala daerah petahana yang gagal pada Pilkada serentak 2024 ini, seperti di Kabupaten Agam, Padang Pariaman, Pesisir Selatan, Pasaman, Pasaman Barat, Lima Puluh Kota, Kota Padang, Kota Bukittinggi dan Kota Sawahlunto.
Hal apa yang menjadi penyebab petahana kalah? Ada lima alasannya.
Dikutip dari transtimur.com (Media Transformasi Indonesia Timur) pada Kamis (2/5/2024) menyebutkan, terdapat lima alasan mendasar yang menjadi penyebab kegagalan petahana pada Pilkada 2024:
Janji Kampanye yang Tidak Ditepati; Ketidakpatuhan terhadap program-program yang dijanjikan saat kampanye menjadi salah satu faktor utama kegagalan petahana. Masyarakat memilih mereka berdasarkan janji-janji tersebut, namun ketika janji tidak dipenuhi, kepercayaan masayarakat pun tergerus.
Kemajuan Tidak Terlihat; Gagal memberikan kemajuan yang signifikan bagi daerahnya menjadi poin kritis lainnya. Jika tidak ada proyek pembangunan yang tidak terlihat atau jika pertumbuhan ekonomi stagnan bahkan menurun, maka kepercayaan masayarakat akan terpengaruh.
Praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN); Keterlibatan dalam praktik KKN juga menjadi faktor penting. Meskipun tidak selalu tertangkap, indikasi KKN seperti penyelewengan proyek atau nepotisme dalam penempatan birokrat dapat membuat masyarakat kehilangan kepercayaan.
Komunikasi Politik yang Lemah; Komunikasi politik yang lemah atau buruk yang jarang turun ke lapangan juga dapat merusak citra petahana. Meskipun ada kemajuan. jika tidak ada komunikasi dengan baik kepada masayarakat, kepercayaan pun akan terganggu.
Munculnya Kandidat yang Baik; Terkadang, petahana bisa kalah karena munculnya kandidat yang lebih baik, baik dari segi integritas, visi, atau dukungan masyarakat yang kuat. Dengan berbagai faktor ini, pentingnya kepemimpinan yang baik, visi yang jelas, dan integritas yang kuat bagi seorang calon kepala daerah.












