Sementara itu, di SMA Negeri 2 Pulau Punjung, puluhan siswa bersemangat menyiapkan sapu lidi dan karung bekas. Rafli (16), salah seorang siswa, bercerita dengan mata berbinar.
“Biasanya kami cuma piket kelas. Besok semua turun bersama. Rasanya seperti satu keluarga besar,” ujarnya.
Kepala sekolah setempat bahkan menjadikan kegiatan ini bagian dari pendidikan karakter.
“Kami ingin anak-anak belajar bahwa kebersihan bukan tugas tukang sapu, tapi tanggung jawab semua orang,” katanya.
Selepas subuh di salah satu masjid nagari, jemaah tak langsung pulang. Mereka melanjutkan kebersamaan dengan membersihkan halaman masjid, menyapu dedaunan, hingga merapikan taman.
Pak Hasan (60), tokoh masyarakat, menyebut kegiatan ini sebagai amal jariyah.
“Membersihkan rumah Allah sama dengan membersihkan hati kita. Kalau masjid indah, orang datang lebih khusyuk,” tuturnya.
Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, telah mengeluarkan surat edaran resmi kepada seluruh kepala OPD, camat, kepala sekolah, hingga wali nagari untuk menggerakkan masyarakat.
“Camat sudah diperintahkan Ibu Bupati untuk mengkoordinasikan kerja bakti di nagari,” jelas Budi Waluyo.
Kerja bakti massal ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Ia adalah pesan besar bahwa sampah adalah tanggung jawab bersama.
Hari itu, Dharmasraya bukan hanya akan terlihat lebih bersih, tetapi juga menunjukkan wajah gotong royong yang masih hidup. Dari bocah kecil yang memungut plastik, pedagang yang rela menunda jualan, hingga jemaah masjid yang membersihkan halaman tempat ibadahnya semua bergerak dalam irama yang sama menjaga bumi kecil mereka tetap layak dihuni.
Dan mungkin, di balik karung-karung sampah itu, tersimpan sebuah harapan semoga kebersihan tidak hanya dirayakan setahun sekali, melainkan menjadi budaya sehari-hari.
(ssa)






