Mjnews.id – Ranah Minang Sumatera Barat gempar dengan adanya sebuah lubang besar di Kabupaten Limapuluh Kota. Sumbar digemparkan oleh fenomena alam yakni terbentuknya sebuah lubang besar di Jorong Tepi, Situjuah, Limapuluh Kota, yang viral di media sosial, dan platform media berita lokal dan nasional sejak 4 Januari 2026.
Terkait dengan kabar tentang lubang besar di Situjuah, ahli geologi Dian Hadiansyah, ST, MT, yang juga Fungsional Penyelidik Bumi Ahli Muda Bidang Air Tanah dan Geologi, Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sumbar, mengupas fenomena alam lubang besar di Situjuah di kantornya, ketika dikonfirmasi pada Selasa 6 Januari 2026.
Menurut Ahli Geologi jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, yang kami tahu adalah dari foto media sosial, fenomena alam sebuah lubang di Limapuluh Kota tersebut dengan silinder 7 meter, kedalaman 5 meter. Perihal ini, dalam waktu dekat Kami akan turun ke lapangan. Tanah terban ini merupakan fenomena inhole”, katanya.
Hal itu adalah fenomena geologi, di bawah itu sudah ada rongga. Rongga itu biasanya pelarutan batuan atau dari erosi batuan. Ketika batuan terbentuk erosi meninggalkan atap, di mana di atas permukaan tanah merupakan sawah bercocok tanam, maka atap ambruk.
Terkait dengan peristiwa geologi di Jorong Tepi, Nagari Situjuah itu, ujar Dian, ada kemungkinan batu kapur atau batu gamping sebagaimana seperti batu kapur di lokasi penambangan batu kapur bahan semen di Semen Padang.
Dugaannya, inhole ini merupakan sungai batu kapur bawah tanah yang saling terkoneksi, atau bisa juga disebut “air hilang” seperti kejadian pada daerah lain. Tapi, sebenarnya air itu bukan hilang, melainkan inlet air masuk ke rongga gua bawah tanah berbentuk mata air ditumpukkan pasir bawah tanah.
Ada juga kemungkinan merupakan batu karts. Sesuai ilmu geologi posisi batu kapur jauh di bawah tapi muncul di permukaan.
Tentang peristiwa yang baru terjadi di Jorong Tepi, Situjuah, ada kemungkinan usia batu kapur tersebut yang jauh di bawah tanah sudah lebih 300 juta tahun dengan berbagai peristiwa alam sebelumnya, seperti ditutupi oleh endapan debu vulkanik.
Inilah dugaan dua kemungkinan yang kami belum tahu pasti, karena akan berencana turun ke lapangan untuk menyelidiki peristiwa yang sebenarnya.











