Ia juga berusaha menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
“Bekerja tetap ada batasnya. Setelah itu ada waktu untuk keluarga dan juga untuk diri sendiri. Sabtu dan Minggu sebisa mungkin memang untuk keluarga, kecuali ada pekerjaan yang benar-benar mendesak,” terangnya.
Sebagai akademisi, kepakaran Zadrian berada pada bidang Teknologi dan Media dalam Bimbingan dan Konseling. Ketertarikannya pada bidang tersebut bermula dari penelitian disertasinya yang mengembangkan model konseling daring untuk membantu mereduksi stres akademik.
Menurutnya, stres akademik tidak hanya dipengaruhi oleh beban tugas, tetapi juga tekanan memperoleh nilai tinggi, ekspektasi orang tua, hingga ketakutan akan kegagalan. Melalui pengembangan layanan konseling berbasis teknologi, ia berupaya menghadirkan layanan yang lebih mudah diakses oleh peserta didik.
Bagi Zadrian, pencapaian akademik bukan sekadar soal gelar atau usia saat meraihnya. Yang lebih penting adalah memastikan setiap proses dijalani dengan baik dan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, institusi, serta masyarakat. (*/hms)
#beritaunp #sdgs












