pemkab muba
BeritaKabupaten DharmasrayaPendidikan

Dari Tanah yang Sunyi Itu Harapan Tumbuh

10
×

Dari Tanah yang Sunyi Itu Harapan Tumbuh

Sebarkan artikel ini
Gubernur Sumbar, Mahyeldi bersama Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani saat MPLS di SRT 3 Dharmasraya
Gubernur Sumbar, Mahyeldi bersama Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani saat MPLS di SRT 3 Dharmasraya. (f/ist)

Pagi itu, matahari baru saja menghangatkan hamparan tanah di Pulau Sawah, Sungai Kambut. Angin berembus pelan, mengiringi langkah-langkah kecil ratusan anak yang datang dengan seragam baru, tas di punggung, dan mimpi yang tersimpan dalam diam. Mereka tidak sekadar berjalan menuju sekolah. Mereka sedang melangkah meninggalkan batas-batas kemiskinan yang selama ini mengurung masa depan.

Oleh: Sutan Sari Alam

(Wartawan Muda)

ADVERTISEMENT

Mjnews.id – Sebanyak 390 anak memasuki gerbang Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Dharmasraya, Jumat (31/7/2026). Tawa mereka memenuhi halaman yang dua bulan lalu bahkan belum memiliki bangunan. Di tempat yang dahulu hanya berupa hamparan tanah, kini berdiri kompleks pendidikan yang megah, lengkap dengan asrama dan fasilitas belajar.

Barangkali tidak semua anak memahami betapa panjang jalan yang telah ditempuh agar mereka bisa berdiri di sana hari itu.

Namun seorang perempuan yang berdiri di antara mereka memahami betul setiap jejak perjuangan itu.

Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, berkali-kali menatap wajah-wajah polos yang dipenuhi rasa ingin tahu. Senyumnya mengembang, tetapi matanya menyimpan haru yang sulit disembunyikan.

Baca Juga: Gubernur Sumbar: Cetak Generasi Emas 2045, Sekolah Rakyat Titik Balik Putus Rantai Kemiskinan

Baginya, hari itu bukan sekadar pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Namun hari itu adalah jawaban atas malam-malam panjang yang dihabiskan menyusun proposal.

Jawaban atas perjalanan yang berulang kali membawanya terbang ke Jakarta. Jawaban atas pintu-pintu kementerian yang diketuk dengan harapan agar Dharmasraya dipercaya menjadi rumah bagi Program Sekolah Rakyat.

Perjuangan itu tidak selalu mudah. Ada proses administrasi yang berliku. Ada koordinasi lintas kementerian karena lahan yang digunakan merupakan aset Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Ada waktu, tenaga, dan kesabaran yang harus dipertaruhkan agar cita-cita itu tidak berhenti sebagai angan-angan.

Namun keyakinan sering kali lebih kuat daripada rintangan. Dan pagi itu, keyakinan itu menjelma menjadi gedung-gedung yang berdiri kokoh dengan nilai pembangunan mencapai Rp244,32 miliar.

Lebih dari itu, ia menjelma menjadi harapan. Harapan bagi anak-anak yang lahir dari keluarga pada kelompok desil 1 dan desil 2. Anak-anak yang selama ini mungkin hanya bisa memandang pendidikan berkualitas dari kejauhan, tetapi kini menjadi bagian darinya.

“Alhamdulillah, saya melihat langkah-langkah kecil anak-anak bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Mereka kini memiliki kesempatan untuk tumbuh sejajar, cerdas bersama, dan menggapai cita-cita yang selama ini mungkin terasa jauh,” ucap Annisa lirih.

Kalimat itu sederhana. Namun di baliknya tersimpan cerita tentang seorang kepala daerah yang memilih untuk terus mengetuk pintu kesempatan hingga akhirnya pintu itu benar-benar terbuka.

Sekolah ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah pesan bahwa negara hadir ketika harapan mulai memudar. Ia adalah bukti bahwa pendidikan masih menjadi jalan paling bermartabat untuk memutus rantai kemiskinan.

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT