pemkab muba
BeritaKabupaten Dharmasraya

Ketika Hutan Tak Lagi Menjadi Rumah: Pesan Sunyi dari Pawai Budaya Sikabau

44
×

Ketika Hutan Tak Lagi Menjadi Rumah: Pesan Sunyi dari Pawai Budaya Sikabau

Sebarkan artikel ini
Pawai Budaya Sikabau
Pawai Budaya Sikabau tahun 2026. (f/sutan sari alam)

Mjnews.id – Ada yang berbeda dari Pawai Budaya Nagari Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, tahun ini.

Di tengah riuh anak-anak nagari yang mengenakan pakaian adat dan beragam kostum budaya, terselip sebuah pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar perayaan. Pesan tentang hutan yang perlahan kehilangan wajahnya, tentang satwa yang kehilangan habitat, dan tentang manusia yang terus mencari ruang untuk mempertahankan kehidupan.

ADVERTISEMENT

Jin, kuntilanak hingga sosok hantu penghuni hutan turut ditampilkan dalam pawai. Bagi sebagian orang, mungkin hanya tontonan budaya. Namun bagi anak nagari Sikabau, sosok-sosok itu menjadi simbol satir, ketika hutan yang selama ini menjadi rumah terus berubah menjadi hamparan perkebunan, ke mana lagi penghuni hutan harus pergi?

Bahkan, dalam gambaran yang mereka tampilkan, makhluk-makhluk yang selama ini diyakini menghuni rimba seakan tak lagi memiliki tempat. Mereka digambarkan meninggalkan hutan dan berpindah ke rumah-rumah kosong.

Pawai Budaya Sikabau tahun 2026
Pawai Budaya Sikabau tahun 2026. (f/sutan sari alam)

Sebuah pesan sederhana, tetapi menyentuh, ketika hutan kehilangan ruang hidupnya, bukan hanya pohon yang hilang. Satwa, manusia dan seluruh ekosistem ikut kehilangan rumah.

Sebanyak 17 kontingen ambil bagian dalam pawai tersebut. Mereka berasal dari sejumlah jorong di Nagari Sikabau, PAUD, TK, SD hingga komunitas Suku Anak Dalam (SAD) yang selama ini bermukim di kawasan hutan ulayat Nagari Sikabau.

Kehadiran komunitas SAD menjadi salah satu bagian paling menarik perhatian. Mereka tidak sekadar hadir sebagai peserta pawai, tetapi membawa cerita tentang kehidupan yang telah mereka jalani puluhan tahun di kawasan tersebut. Mereka yang Hidup dari Hutan

Di antara barisan peserta, Agus Prianto berjalan membawa suara komunitasnya.

Bagi Agus dan komunitas SAD, hutan bukan sekadar hamparan tanah yang dapat dihitung dalam hektare. Hutan adalah ruang hidup, tempat mereka menjalani kehidupan, membangun keluarga dan mewariskan kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, ketika persoalan lahan muncul dan wilayah tempat mereka bermukim ikut terseret dalam sengketa, kegelisahan pun tidak dapat disembunyikan.

Agus mengatakan komunitas SAD tetap memberikan dukungan kepada Niniak Mamak Nagari Sikabau dalam memperjuangkan persoalan lahan yang saat ini menjadi sengketa.

“Kami tetap mendukung Niniak Mamak Sikabau karena kami bertempat di situ. Kami bergabung dengan Sikabau karena tinggal di wilayah Sikabau,” ujarnya kepada media ini, Kamis (27/8/2026).

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT