EkonomiTanah Datar

Erizal, Pengrajin Kulit Butuh Perhatian Pemkab Tanah Datar

213
×

Erizal, Pengrajin Kulit Butuh Perhatian Pemkab Tanah Datar

Sebarkan artikel ini
Panyalaian, MJNews.id – Erizal St. Bangindo, Master Asah Batu Akik dan Pengrajin Kulit. Dua profesi yang sudah  puluhan tahun dia geluti. Untuk urusan batu akik dan kerajinan kulit belum ada tandingnya, untuk daerah Padang Panjang, Batipuh X Koto. Karya tangannya, jaminan mutu belum ada tandingannya.
Bagi pecinta Batu Akik, tidak ada yang tidak kenal dengan sosok saulah ini. Pembawaanya tenang, itu yang membuat beliau disukai banyak orang. Sayang, potensi yang punyai Erizal tidak terpantau oleh Pemerintah Kabupaten Tanah Datar. Pasalnya, sudah puluhan tahun mereka menggeluti profesi ini, belum ada sama sekali tersentuh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanah Datar.
Padahal, buah tangannya sudah melalang buana sampai ke Manca Negara. Dalam, beberapa helat Tour de Singkarak (TdS) digelar di Padang Panjang, souvenir atau kenangan yang diberikan para pemenang, berupa Topi Moris terbuat dari kulit asli adalah hasil kerja tangan Erizal. Keahlian lainya, tidak hanya dibidang asah batu dan membuat topi Moris. Ada banyak lagi keahliannya di bidang lain. 
Untuk souvenir lain, seperti dompet, sepatu datuak, tas berbahan kulit, bisa dipesan. Yang jelas, untuk urusan kerajinan kulit Erizal ahlinya. Untuk hasil dan desain jangan diragukan. Semisal, Topi Moris yang banyak dipakai orang tidak kalah aslinya dengan topi moris Amerika. Jika, dilihat selintas lalu, kita tidak akan percaya bila topi yang dipakai orang adalah murni dikerjakan tangan tanpa bantuan mesin. 
Sayang beribu sayang, tangan terampil itu seolah terabaikan. Dan, perhatian Pemkab untuk urusan UKM di Kenagarian Panyalaian ini boleh dikatakan kurang. Tidak hanya Erizal yang merasakan. Banyak, UKM kecil butuh sentuhan tangan pemerintah. Bila, pemerintah Kabupaten punya kepedulian. Nasib, UKM di  nagari Panyalaian tidak akan jalan di tempat. 
“Persoalannya, derita tersebut sudah puluhan tahun dirasakan Erizal. Jangankan bantuan untuk datang, melihat bagaimana perkembangan usaha rumahan tidak pernah dilakukan pemerintah Kabupaten Tanah Datar. Terkadang kita iri dengan tetangga dekat, yang sangat peduli akan kelangsungan usaha rumahan masyarakatnya,” ujar Erizal saat bincang-bincang dengan MJNews.id di sanggar kecilnya, KM 3 Jorong Bintungan kenagarian Panyalaian, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar. 
Untuk kelangsungan usaha ini, tentu kita butuh modal yang tidak sedikit. Maka dari itu, perhatian pemerintah sangat kita harapkan sekali. Pingin, menambah banyak macam usaha. Namun, kita terbentur dengan modal. Mau tak mau, kita terpaksa bertahan dengan kondisi yang ada. Pernah, satu kali coba coba mengajukan pinjaman pada salah satu Bank. Namun, proposal pinjaman terbentur akan sebuah jaminan. 
Jujur, untuk jaminan yang diminta Bank sebagai persyaratan kita tidak punya. Jika pun ada, pinjaman lunak, tetapi belum bisa menyelesaikan persoalan yang ada. Untuk itu, perhatian pemerintah Kabupaten Tanah Datar sangat kita harapkan sekali. Bila, tidak ada bantuan modal usaha. Mencarikan, bapak angkat untuk melancarkan usaha ini boleh juga. Yang penting, perhatian pemerintah ada. 
Namun, sejauh ini belum ada yang namanya berupa bantuan peralatan atau bantuan modal untuk kelangsungan usaha ini. Memang, susah untuk berkembang. Bila, kita tidak punya modal banyak.
“Berharap pada pemerintah, tidak sama dengan meminta pada orang tua. Artinya, satu dimintak satu dapat,” ujar Erizal. 
Sangat disayangkan, UKM kita berdomisili di Tanah Datar. Tapi yang dapat nama tetangga sebelah. Untuk itu, kearifan Pemerintah Tanah Datar sedikit mencurah perhatiannya pada sektor rumahan ini. Jika tidak, industri rumahan kita akan mati suri. Apalagi segala segalanya mahal.
“Untuk berkreasi ke arah yang lebih baik. Tentu, semakin susah. Dikarenakan mahalnya semua bahan baku,” ujar Erizal. 
Di sisi lain, kita tidak bisa menaikan nilai tawar kita pada orang. Pasalnya, di sini kita sifatnya menunggu orderan dari pemesan. Jasa kita, dihitung dari banyaknya pesanan. Bila pesanan sepi. Untuk menutup kebutuhan sehari-hari kita isi dengan mengasah baru akik. Parahnya, masa keemasan batu sudah berlalu. 
“Untuk menunjang kelangsungan usaha ini. Kita, berharap sekali keseriusan pemerintah untuk memperhatikan usaha rumahan ini. Jika tidak, usaha rumahan ini akan rontok satu persatu dikarenakan ketidak adaan modal untuk mengayuh biduk usahanya,” pungkas Erizal mengakhiri obrolan dengan MJNews.id.
(Son)

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *