EkonomiKabupaten Agam

KWTH-AWR Malalak Barat Produksi Sirup Kulit Manis Malbar Cassiavera

701
×

KWTH-AWR Malalak Barat Produksi Sirup Kulit Manis Malbar Cassiavera

Sebarkan artikel ini
Sirup Kulit Manis Malbar Cassiavera
Sirup Kulit Manis Malbar Cassiavera. (amc)

Olahan Kulit Manis

Berbekal pengetahuan sewaktu kuliah dan pengalaman di lembaga swadaya masyarakat, Fadli mencoba mencari formula olahan kulit manis yang dapat dikembangkan masyarakat. Alhasil, setelah melewati beberapa percobaan dan uji pendapat konsumen, akhirnya ditemukan formula sirup berbahan kulit manis.

ADVERTISEMENT

“Formula ini saya tawarkan ke ibu-ibu petani setempat sebagai produk usaha kelompok. Setelah dicoba, mereka bersemangat untuk memproduksinya dalam jumlah banyak. Dan ini juga sejalan dengan program pemerintah Kabupaten Agam, satu nagari satu produk UMKM,” tutur Sekretaris KNPI Agam itu.

Kini, ulasnya, sirup itu menjadi salah satu usaha kelompok dengan merek Sirup Kulit Manis Malbar Cassiavera. Pada tahap awal, KWTH-AWR memproduksi 30 botol sirup dengan modal swadaya, lalu meningkat menjadi 50 botol dan kini bisa memproduksi 120 botol sirup dalam satu minggu.

Sirup kulit manis yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan itu dipatok harga Rp15 ribu per botol untuk jenis Extragula dan Rp 20 ribu untuk jenis Original/nongula yang dikemas dalam botol 250 ml. Saat ini pemasarannya masih dari mulut ke mulut. Hasil penjualan nantinya akan dibagikan ke anggota kelompok dalam rentang satu tahun sekali.

“Hasil penjualan, 90 persen hak anggota kelompok, 5 persen untuk Surau Lambah dan 5 persen lagi untuk anak yatim. Artinya usaha ini juga ladang amal, baik bagi petani maupun pembeli,” ungkap Owner Sirup Kulit Manis MALBAR Cassiavera ini.

Saat ini, KWTH-AWR masih terus mencari varian rasa sirup yang baru. Fadli dan kelompok tengah mencoba racikan sirup kulit manis dengan rasa gula aren dan madu. Untuk pengembangan, KWTH-AWR tengah mengurus izin produksi. Selain itu, sekumpulan kaum ibu tersebut juga mengharapkan sokongan alat produksi.

“Saat ini cara produksi masih tradisional dengan tetap memperhatikan SOP kesehatan yang ketat. Kami berharap kedepan akan ada alat produksi yang memadai, sehingga kualitas dan kuantitas produk bisa terus ditingkatkan,” katanya.

Selain memperkaya nilai ekonomis dari kulit manis, KWTH-AWR juga menanam dan merawat komoditi yang diolah dengan cara organik di areal pertanian kelompoknya. Komoditi itu berupa sayur mayur seperti terung, cabai rawit dan bawang pray.

Hingga kini KWTH-AWR tetap eksis memproduksi sirup berbahan kulit manis dan membudidayakan aneka sayur mayur sebagai sumber penghasilan masyarakat di Malalak Barat.

Ia berharap, kelompok tani yang dibinanya itu terus mampu jadi sandaran asa kesejahteraan bagi keluarga tani setempat. Fadli juga berambisi akan muncul kelompok- kelompok tani dengan usaha lainnya di daerah itu. 

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *