BeritaKemensosNasionalPendidikan

Sekolah Rakyat Resmi Dimulai, Pakai Pendekatan Empati ke Siswa

535
×

Sekolah Rakyat Resmi Dimulai, Pakai Pendekatan Empati ke Siswa

Sebarkan artikel ini
Pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Rakyat Tahun 2025 di SRMP 6 Bambu Apus, Jakarta Timur
Pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Rakyat Tahun 2025 di SRMP 6 Bambu Apus, Jakarta Timur. (f/biro humas kemensos)

Mjnews.idSekolah Rakyat resmi beroperasi secara serentak di 63 titik di seluruh Indonesia yang ditandai dengan dimulainya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Senin (14/7/2025). Sementara 37 titik lainnya akan menyusul pada akhir bulan ini. Pendekatan empati dipilih dalam masa pengenalan lingkungan ini.

“Kalau kami pendekatannya adalah pendekatan empati, kita tumbuhkan rasa kasih sayang kita, karena kita adalah sebagai pengganti dari orangtua, kita sebagai orangtua akan mengayomi sehingga nanti anak-anak kita belajar nyaman dengan lingkungannya,” kata Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 6 Jakarta, Regut Sutrasto saat mengikuti kegiatan Pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Rakyat Tahun 2025 di SRMP 6 Bambu Apus, Jakarta Timur, Senin (14/7/2025).

ADVERTISEMENT

Regut menjelaskan MPLS akan dilaksanakan selama lima hari terdiri dari pendidikan karakter, masa pengenalan lingkungan sekolah termasuk didalamnya pemakaian dan perawatan fasilitas sekolah, lalu pengenalan tata tertib dan jadwal kegiatan di sekolah.

“Untuk kegiatan MPLS hari ini yang pertama tadi ada kegiatan launching (secara daring) dengan Kementerian terkait, terus yang kedua nanti (siswa) ada tes kesehatan, terus tes kebugaran untuk mengecek tingkat kebugaran anak-anak kita,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa masa pengenalan dan orientasi lingkungan Sekolah Rakyat ini akan menekankan pada kenyamanan siswa. “Orientasi ini kita buat seramah mungkin pada anak, sehingga nanti anak jadi nyaman,” jelasnya.

MPLS di SRMP 6 Jakarta mengampu 75 siswa jenjang SMP yang terdiri dari 35 orang laki-laki dan 40 orang perempuan. Siswa terbagi kedalam 3 Rombongan Belajar (Rombel), masing-masing rombel 25 orang.

Siswa Sekolah Rakyat akan tinggal di asrama selama mengikuti kegiatan. Sebanyak 6 orang wali asuh bertugas mendukung layanan pendampingan siswa dan 2 orang wali asrama yang akan bertugas sebagai penanggungjawab kondisi asrama di Sekolah Rakyat.

“Setidaknya dengan diasramakan, pola hidup anak-anak kita akan lebih teratur, sesuai dengan salah satunya dalam tujuh kebiasaan yang tadi disampaikan,” kata Regut.

Ia menjelaskan meskipun para siswa di asrama selama mengenyam pendidikan, orangtua tetap akan diberikan kesempatan untuk menjenguk anaknya.

“Pasti dijadwalkan nanti, untuk memberikan kesempatan bagi orang tua melepas rindu (pada anaknya),” ujarnya.

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT