Mjnews.id – Kemajuan teknologi dan informasi membuat perubahan besar pada sosial manusia. Memberikan kemudahan secara signifikan dalam mengakses berita. Kita tidak perlu lagi berlangganan koran untuk tahu berita ter-update. Tinggal buka gadget dan semua informasi yang kita perlukan sampai hal-hal random bisa kita dapatkan.
Penulis: M. Fadhlan Athariq
Kemudahan tersebut ternyata menjadi pisau bermata dua bagi manusia. Manusia menjadi bergantung pada informasi. Kecanduan untuk membuka gadget membuat mereka sering terpapar informasi. Paparan yang bisa dikategorikan overload tersebut membuat mereka menjadi pusing, dilema, takut, cemas, marah, dan efek media massa lainnya.
Merujuk pada judul di atas, kali ini kita akan menganalisis salah satu efek media massa, yaitu kultivasi pada berita “Mutilasi di Padang Pariaman”.
Sebelum kita mengulas studi kasus di atas, kita harus paham terlebih dahulu perihal Teori Kultivasi, yakni:
1. Kultivasi:
Teori ini pertama kali ditemukan oleh George Gerbner (1919), seorang Profesor Komunikasi dari University of Pennsylvania, Amerika Serikat. Gerbner mengemukakan teori ini pada Tahun 1960-an, ketika televisi sudah berjamur di Amerika Serikat. Pada masa itu, acara-acara televisi belum mengenal etika sensor dan agenda acara seperti pada masa kini. Sehingga adegan-adegan berbahaya, seperti darah, benturan, kekerasan, dan hal tidak etis lainnya ditampilkan secara vulgar.
Melihat fenomena tersebut, Gerbner berasumsi bahwa keterbukaan seperti ini akan memberikan efek media seperti kultivasi, yang mana kultivasi yaitu terpaan acara televisi yang dilihat manusia membentuk persepsinya terhadap dunia.
Sederhananya, mereka memandang apa yang ditontonnya di televisi seakan-akan adalah realitas yang nyata dan benar adanya.
2. Heavy Viewers (Penonton Berat) dan Light Viewers (Penonton Ringan)
Jika kita bahas Teori Kultivasi, maka pastinya kita akan bersinggungan tentang konsep heavy viewers dan light viewers.
Konsep ini ditemukan oleh Gerbner dan teman-temannya untuk melihat efek kultivasi yang dialami oleh penonton televisi di Amerika pada saat itu. Setelah melakukan analisis, Gerbner menemukan bahwa penonton berat lebih besar kemungkinan terkena efek kultivasi daripada penonton ringan.
Untuk melihat syarat penonton berat, Gerbner menentukan indikator heavy viewers adalah individu yang mengakses media massa, yang pada saat itu televisi, sebanyak 4 jam per hari. Apabila kita relevansikan dengan masa kini, rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu untuk mengakses media sosial selama 188 menit (3 jam 8 menit).
Durasi ini menetapkan Indonesia berada di peringkat 9 negara terlama mengakses media sosial (Goodstats, 2025).
Melihat data diatas, efek kultivasi berpeluang besar terkena oleh publik atau pengguna media massa di Indonesia.
