Di era digital kini, persepsi bahwa ilmu pertanian itu “kuno” atau “rumit” perlahan runtuh. Kita sedang menyaksikan demokratisasi informasi agraris yang luar biasa masif.
Oleh: Hafisz Irfan
Mjnews.id – Menariknya, agen perubahannya bukanlah seminar kaku di balai desa, melainkan platform video singkat bernama TikTok. Platform yang kerap dicap sebagai tempat hiburan semata ini, nyatanya efektif menjadi “sekolah tani” bagi kaum muda yang mencari penjelasan ringkas dan visual.
Fenomena ini menarik untuk disimak. Jika dulu kita butuh lahan luas untuk disebut petani, kreator konten di TikTok mematahkan stigma itu.
Lihat saja bagaimana akun Mewalik (@mewalikjaya) membangun narasi keberlanjutan (sustainability) yang relevan dengan isu lingkungan saat ini. Ia tidak berbicara tentang alat canggih, melainkan mengajak 972 ribu pengikutnya untuk memanfaatkan barang bekas di sekitar rumah.
Ini adalah kritik halus terhadap budaya konsumtif, sekaligus solusi cerdas bagi masyarakat urban yang memiliki lahan terbatas. Mewalik membuktikan bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari pot bekas di halaman rumah.
Di sisi lain, ada aspek “penyembuhan” (healing) yang ditawarkan. Tengoklah Denis Matthew (@denismatthew_). Dengan 3,2 juta pengikut, Denis tidak sekadar mengajar cara tanam, tapi ia “menjual” gaya hidup.
Pembawaannya yang santai dan ceria menjadikan aktivitas memanen dan memasak hasil kebun sendiri terlihat sebagai kemewahan baru di tengah hiruk-pikuk dunia modern.
Denis juga memainkan peran penting dalam diplomasi biodiversitas dengan memperkenalkan buah-buahan endemik Kalimantan kepada audiens nasional.
Pertanian Itu Penuh Inovasi
Sementara itu, untuk mereka yang haus akan literasi botani yang lebih serius, akun seperti Mini Garden (@mini_garden12) hadir mengisi ruang edukasi. Dengan membahas varietas unik dan tanaman non-lokal, ia memperluas cakrawala kita bahwa pertanian itu penuh inovasi. Penjelasan tentang manfaat kandungan tanaman juga menyadarkan kita bahwa berkebun adalah bagian dari investasi kesehatan.
Ketiga akun ini hanyalah contoh kecil dari gelombang besar perubahan. Mereka membuktikan bahwa TikTok bisa menjadi alat edukasi yang powerful.
Jika tren ini terus berlanjut, kita mungkin tidak perlu cemat akan regenerasi petani di masa depan. Bibit cinta pada pertanian ity kini sedang disemai, bukan di ladang, tapi di layar ponsel kita.
Penulis, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas (Unand) Padang
(*)
