Opini

Kasus Nadiem Makarim: Disaat Pengabdian Menjadi Ruang Kecurigaan

12
Gambar ilustrasi. (Ai)

Oleh: Dr Chairul Hakim, MM

MJNEWS.ID – Ada satu pertanyaan sunyi yang mulai bergaung di ruang publik Indonesia, mengapa semakin banyak orang baik takut masuk ke dalam kekuasaan? Kasus yang menyeret nama Nadiem Makarim hanyalah satu fragmen kecil dari kegelisahan besar itu.

ADVERTISEMENT

Di negeri ini, seseorang dapat dipuji ketika membawa gagasan, tetapi pada saat yang sama dicurigai ketika memegang kuasa. Akibatnya, politik berubah menjadi ruang yang paradoksal, semua orang menginginkan perubahan, tetapi sedikit yang berani masuk ke dapur perubahan itu sendiri.

Filsuf Yunani, Plato, pernah mengingatkan bahwa hukuman terbesar bagi orang yang menolak terlibat dalam politik adalah dipimpin oleh orang-orang yang lebih buruk darinya. Kalimat itu terasa relevan hari ini. Ketika individu yang jujur, cerdas, dan kompeten memilih menjauh karena takut dicela, dikriminalisasi, atau dihancurkan reputasinya, maka ruang kosong kekuasaan akan diisi oleh mereka yang justru nyaman dengan kegelapan sistem. Politik akhirnya kehilangan kaum moralis, dan hanya menyisakan kaum oportunis.

Masalah utama Indonesia sesungguhnya bukan kekurangan orang pintar, melainkan kekurangan ekosistem yang melindungi orang jujur. Kita memiliki banyak akademisi hebat, profesional cemerlang, aktivis idealis, dan tokoh agama yang tulus. Tetapi sistem politik sering kali lebih ramah kepada mereka yang lihai bermanuver dibanding mereka yang lurus dalam integritas. Di titik inilah bangsa membutuhkan revolusi etika, bukan sekadar revolusi kekuasaan.

Kita perlu memperbanyak orang jujur dan kompeten yang mau memasuki ruang publik, birokrasi, parlemen, pendidikan, media, hingga organisasi masyarakat. Sebab politik pada hakikatnya bukan dunia yang kotor, manusialah yang membuatnya kotor. Pisau yang sama dapat digunakan untuk membunuh atau memasak makanan bagi keluarga. Kekuasaan pun demikian, ia bisa menjadi alat penindasan atau jalan pengabdian.

Tetapi keberanian moral juga harus diimbangi dengan kedewasaan publik. Demokrasi tanpa kebijaksanaan mudah berubah menjadi pengadilan massa. Di era digital, seseorang dapat dihukum lebih cepat oleh opini dibanding putusan hukum. Kita hidup dalam zaman ketika tuduhan sering lebih viral daripada klarifikasi. Akibatnya, banyak anak muda terbaik memilih sukses di sektor privat daripada masuk ke pelayanan publik. Mereka takut bukan pada kerja keras, tetapi pada penghukuman sosial yang sering kehilangan proporsi.

Bangsa besar tidak dibangun oleh manusia sempurna. Ia dibangun oleh manusia yang mau tetap mengabdi meski tahu dirinya akan dikritik. Maka yang dibutuhkan Indonesia hari ini bukan sinisme kolektif, melainkan keberanian kolektif, keberanian untuk tetap jujur di tengah sistem yang belum sempurna, keberanian untuk tetap masuk ke ruang pengabdian meski risiko reputasi begitu mahal.

Karena bila semua orang baik mundur dari politik, maka sesungguhnya kita sedang menyerahkan masa depan bangsa kepada mereka yang sejak awal tidak pernah peduli pada bangsa ini.

Exit mobile version