Opini

Hari Sumpah Pemuda di Era Digital: Jangan Biarkan Generasi Muda Kehilangan Arah

28
×

Hari Sumpah Pemuda di Era Digital: Jangan Biarkan Generasi Muda Kehilangan Arah

Sebarkan artikel ini
Sutan Sari Alam: Hari Sumpah Pemuda di Era Digital
Sutan Sari Alam. (f/dok. pribadi)

Karena itu, kecakapan digital tidak cukup diukur dari kemampuan mengoperasikan perangkat atau menggunakan aplikasi. Kecakapan digital juga menyangkut kemampuan memeriksa informasi, menghormati privasi, memahami konsekuensi hukum, serta bertanggung jawab atas apa yang disampaikan.

Pemuda harus berani menyampaikan kritik, tetapi kritik perlu berpijak pada fakta. Kebebasan berpendapat harus disertai kesediaan menghormati hak orang lain.

ADVERTISEMENT

Kita tidak membutuhkan generasi yang hanya cepat bereaksi, tetapi lambat berpikir. Kita membutuhkan generasi yang mampu menahan diri sebelum membagikan informasi, memeriksa fakta sebelum menarik kesimpulan, dan mengedepankan dialog ketika menghadapi perbedaan.

Di sinilah patriotisme menemukan bentuknya yang baru.

Mencintai Indonesia pada era digital bukan hanya mengibarkan bendera atau mengucapkan ikrar persatuan. Patriotisme juga berarti tidak ikut menyebarkan kebencian, tidak memproduksi fitnah, tidak merusak persatuan demi popularitas, serta menggunakan teknologi untuk memperluas pengetahuan dan menyelesaikan persoalan bangsa.

Di balik berbagai peluang teknologi, terdapat persoalan yang tidak boleh diabaikan, tidak semua anak muda memiliki kesempatan yang sama.

Ada yang tumbuh dengan akses internet cepat, perangkat memadai, pendidikan berkualitas, dan lingkungan yang mendukung. Namun, ada pula yang masih menghadapi keterbatasan jaringan, biaya pendidikan, sarana belajar, dan kesempatan kerja.

Kondisi ini mengingatkan kita bahwa digitalisasi tidak otomatis menghadirkan keadilan.

Apabila tidak diiringi pemerataan akses dan peningkatan keterampilan, kemajuan teknologi berisiko memperlebar jarak antara mereka yang siap menghadapi perubahan dan mereka yang tertinggal.

Karena itu, tanggung jawab menghadapi tantangan digital tidak boleh dibebankan kepada pemuda semata.

Pemerintah perlu memperluas akses pendidikan dan pelatihan keterampilan digital. Lembaga pendidikan perlu membangun budaya belajar yang mendorong kreativitas dan pemikiran kritis. Dunia usaha perlu membuka kesempatan bagi talenta muda untuk berkembang. Organisasi kepemudaan harus mampu menjadi ruang pembelajaran, kolaborasi, dan pengabdian.

Sementara itu, media memiliki tanggung jawab menjaga kualitas informasi dan mendorong literasi publik agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam disinformasi.

Namun, dukungan tersebut harus disambut dengan kesediaan generasi muda untuk belajar dan berusaha.

Jangan hanya menunggu kesempatan datang. Bangun kemampuan sejak sekarang. Jangan hanya mengeluhkan sulitnya persaingan. Tingkatkan keterampilan agar mampu menghadapinya. Jangan menganggap keterbatasan sebagai akhir perjalanan, tetapi jadikan sebagai alasan untuk mencari jalan yang lebih kreatif.

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT