Ujub secara bahasa berarti rasa bangga, keangkuhan atau mengagumi diri sendiri dengan melupakan peran Allah SWT sebagai sumber semua yang ia miliki. Dalam Islam ujub merupakan penyakit hati dimana seseorang merasa kagum terhadap kelebihan amal ibadah, ilmu ataupun pencapaian dirinya dibanding dengan orang lain.
Oleh: Dr H Helmi, M.Ag
Mjnews.id – Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang maknanya: “Tiga perkara yang membinasakan: rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ‘ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri.” (HR. At-Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath)
Syaitan penuh tipu daya untuk menjerumuskan umat manusia ke dalam neraka. Selain mengajak untuk berbuat dosa dan kerusakan, syaitan juga kerap melancarkan godaan yang dirasa benar dan baik padahal kenyataannya tidak.
Salah satu contohnya adalah menganggap orang lain lebih salah dalam beribadah dibanding dirinya sendiri. Dengan cara ini, syaitan seolah membuat manusia merasa dirinya suci dan bebas dari dosa. Salah satu contoh perbuatan merasa diri paling benar adalah mengabarkan ke orang lain bahwa dirinya paling benar dan paling memahami dalam ilmunya.
Merasa diri paling benar atau paling suci dalam beribadah adalah hal yang dibenci oleh Allah sebagaimana firman-Nya :
وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً ۚ قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ ۖ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”. Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS. Al-Baqarah: 80)
Karena kebiasaan mereka ini, Allah Azza wa Jalla kemudian mencela perbuatan mereka dan diganjar oleh dosa. Hal ini juga berlaku bagi umat Islam yang merasa dirinya paling benar dibanding umat Islam lainnya:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ ۚ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?. Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun.” (QS. An-Nisa’: 49)
انْظُرْ كَيْفَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَكَفَىٰ بِهِ إِثْمًا مُبِينًا
“Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata bagi mereka.” (QS. An-Nisa’: 50)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang umatnya untuk merasa dirinya lebih suci atau lebih baik: “Janganlah kalian merasa diri kalian suci, Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik di antara kalian.” (HR. Muslim)
Merasa diri paling benar pasti melahirkan kesombongan sehingga ia menganggap rendah orang yang tidak seperti dirinya, padahal bisa jadi orang-orang tersebut adalah yang lebih dekat kepada Allah SWT lewat amal lain.
Al-‘Allamah Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah dalam Madarij As-Salikin berkata: “Jika Allah membukakan untukmu pintu memudahkan shalat malam, jangan memandang rendah orang yang tertidur. Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa sunnah, janganlah memandang rendah orang yang tak berpuasa. Dan jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, maka jangan memandang rendah orang yang tak berjihad. Sebab, bisa saja orang yang tertidur, orang yang tidak berpuasa (sunnah) dan orang yang tak berjihad itu lebih dekat kepada Allah ketimbang dirimu.”
Kemudian beliau melanjutkan: “Sungguh, engkau ketiduran sepanjang malam lalu menyesal di waktu pagi, lebih baik daripada melewati malam dengan ibadah tapi merasa bangga di pagi hari. Itu karena orang yang sombong, amalannya tidak akan naik ke sisi Allah.”
Umat Muslim dianjurkan untuk lebih mengenal dirinya sendiri. Karena dengan mengenal diri sendiri dapat menghindari kita dari penyakit hati seperti: sombong, riya, ujub, takabur, dan lain sebagainya. Selain itu, dengan mengenal diri sendiri juga untuk menghindari perdebatan yang tidak perlu.
Harusnya kita melihat contoh Abu Bakar. Ketika dipuji ia malah berdoa dan meminta ampun kepada Allah Azza wa Jalla, bukannya merasa dirinya paling benar: “Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka.” (Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228)
Semoga Allah SWT mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa tawadhu’, menjauhi riya’, ‘ujub dan takabur untuk meraih ridha-Nya… Aamiin Ya Rabb.
Wallahua’lam bishawab
(*)







