Pendidikan

Carut-marut Dunia Pendidikan Selama Pandemi

389
×

Carut-marut Dunia Pendidikan Selama Pandemi

Sebarkan artikel ini
SD Bugangan Semarang
SD Bugangan Semarang.

Semarang, MJNews.ID – Sudah setahun, masa pandemi belum juga berakhir. Pembatasan di semua lini kegiatan masyarakat di berlakukan secara ketat, termasuk di dunia pendidikan.
Sekolah-sekolah wajib dilakukan secara virtual atau online, dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) hingga Universitas. Interaksi antara Pengajar dan siswa dilakukan secara virtual. Dari pengajaran hingga tugas-tugas yang harus dikerjakan tiap siswa.
Penyesuaian yang mendatangkan sisi positif dan negatif, dari pihak Pengajar, siswa dan juga orang tua. Terlebih untuk siswa yang masih membutuhkan pendampingan, yaitu dalam pengerjaan soal-soal ujian atau tugas-tugas yang harus diselesaikan, seperti anak-anak di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Taman Kanak-kanak (TK).
Untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Mahasiswa, persoalan utama sudah tidak begitu menjadi masalah, karena siswa seusia SMP hingga Mahasiswa, mereka cenderung sudah mempunyai tanggungjawab terhadap dirinya.
Hal ini yang disampaikan oleh Suwarti, guru SD Bugangan Semarang, Sabtu 21 Agustus 2021.
Disampaikan pula, rata-rata siswa yang dari kalangan menengah ke bawah, mereka banyak kesulitan dalam menerima sistem pengajaran memakai virtual. Persoalan yang dihadapi dalam keterbatasan orang tua murid menyediakan quota atau handphone yang tidak mendukung untuk aplikasi yang wajib mereka download.
Jadi banyak soal-soal atau bahan pengajaran di Google Class, aplikasi yang mereka harus punyai di handphone, tidak dapat tercapai dengan baik. Dan tugas-tugas tertunda dalam penyelesaianya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Suwarti berinisiatif berhubungan melalui aplikasi WhatsApp, aplikasi yang pasti setiap pemakai handphone memilikinya. Tapi hal ini pun belum bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Sebut saja Narti. Salah satu orang tua murid yang Penulis temui di sekolah, menyampaikan lebih senang anaknya dapat bersekolah kembali normal. Dikarenakan keterbatasan pengetahuan terhadap pelajaran, membuat Narti kewalahan dalam membantu pengerjaan tugas putranya. Dan juga keterbatasan biaya dalam pengadaan quota. Yang tentunya akan memakan banyak quota untuk sekali virtual.
Dapat kita bayangkan, untuk masyarakat menengah ke bawah, hal ini menjadi persoalan baru bagi mereka, dan menambah biaya bulanan keluarga. Jika mereka memiliki lebih dari 1 anak, bisa kita hitung berapa biaya yang harus disediakan tiap hari, minggu dan bulannya.
Dan tentunya akan sangat berbeda untuk siswa dari kalangan menengah atas, quota bukan menjadi persoalan utama bagi mereka. Tapi persoalan kesibukan orang tua pekerja atau sibuk dengan kegiatan mereka, yang akhirnya harus mendampingi putra-putrinya belajar.
Atau mereka mendatangkan guru privat untuk mendampingi putra putrinya di rumah. Tapi tidak semua keluarga mau melakukan, karena ketakutan terhadap Covid-19 yang terus merajalela, hingga mereka melakukan pembatasan untuk orang luar yang masuk ke lingkungan rumah mereka.
Dengan persoalan tersebut, Pemerintah berusaha mengumbar quota untuk kalangan menengah ke bawah, tapi ternyata tetap saja tidak menyelesaikan masalah. Karena handphone yang dimiliki pun harus bisa mensuport aplikasi yang dipakai sekolah.
Menilik persoalan tersebut, banyak sisi negatif yang kita temui. Tapi Pemerintah pun belum menemukan jalan keluar yang baik, agar sistem pengajaran dapat berjalan normal kembali.
Semakin meningkatnya wabah Covid-19 di beberapa daerah, yang membuat kehati-hatian pemerintah membuka kembali Peraturan Pembatasan Kerumunan Masyarakat (PPKM).
Saat ini yang dapat kita lakukan hanya benar-benar mematuhi anjuran pemerintah untuk 5M : Memakai Masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak, Menghindari Kerumunan dan Mengurangi Mobilitas. 
Semoga dengan disiplin setiap warga masyarakat, Pemerintah akan mulai melonggarkan PPKM dan sekolah-sekolah dapat dibuka kembali. Dunia Pendidikan akan kembali cerah.
(Terry)

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *