Mjnews.id – Semangat pelestarian budaya lokal mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto akan menggelar Lomba Tonil Berbahasa Tangsi pada Agustus 2026.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda hiburan dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 RI. Pemerintah Kota Sawahlunto menjadikannya sebagai bagian dari upaya pemajuan kebudayaan, khususnya dalam menjaga keberlangsungan seni pertunjukan Tonil atau Tonel serta Bahasa Tangsi yang tumbuh dari sejarah masyarakat tambang.
Kepala Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto, Guspriadi, mengatakan lomba tersebut diharapkan mampu menjadi sarana untuk mengenalkan kembali kekayaan budaya lokal kepada masyarakat, terutama generasi muda.
“Lomba ini tidak hanya untuk hiburan dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 RI, tetapi juga bagian dari upaya pemajuan kebudayaan,” kata Guspriadi.
Menghidupkan Kembali Seni di Kawasan Tangsi
Tonil Berbahasa Tangsi merupakan seni pertunjukan dramatik yang dikenal masyarakat sebagai sandiwara. Kesenian tersebut memiliki keterkaitan erat dengan sejarah pertambangan Sawahlunto.
Pada masa lalu, pertunjukan Tonil banyak digelar di barak-barak atau kawasan Tangsi yang menjadi tempat tinggal para pekerja tambang. Dari lingkungan sosial tersebut kemudian berkembang ekspresi seni dan bahasa yang mencerminkan kehidupan masyarakat tambang Sawahlunto.
Bahasa Tangsi sendiri merupakan bahasa kreol atau bahasa buruh yang hingga kini masih digunakan dan lestari di tengah masyarakat Sawahlunto. Keberadaannya menjadi bagian penting dari warisan budaya yang lahir dari pertemuan berbagai latar belakang masyarakat di kota tambang tersebut.
Bahasa Tangsi telah ditetapkan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2018.
Kepala Bidang Permuseuman, Gusnelly, mengatakan lomba tersebut diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk tidak hanya menyaksikan, tetapi juga terlibat langsung dalam mengenal dan melestarikan seni serta bahasa yang lahir dari sejarah masyarakat tambang Sawahlunto.
Menurutnya, keterlibatan generasi muda penting untuk memastikan Bahasa Tangsi dan seni Tonil tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
“Generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mengenal, mempelajari, dan melestarikan Bahasa Tangsi serta seni Tonil sebagai bagian dari identitas budaya daerah,” ujarnya.












