“UNP saat ini tercatat sebagai universitas terbesar di Pulau Sumatera, dengan jumlah mahasiswa 50.000 orang, memiliki tujuh kampus yang tersebar di Padang, Bukit Tinggi, Pariaman, Payakumbuh, Sawahlunto, Painan, dan Insya Allah kampus di Pasaman jadi yang ke delapan,” beber Rektor UNP yang juga mantan Kepala Kopertis Wilayah X Padang itu.
“Kampus UNP di Pasaman rencananya untuk prodi jurusan pendidikan, pertanian dan kepariwisataan,” sebutnya.
Ditambahkan, dengan perubahan status PTBH, UNP sudah membuat master plan besar, tidak hanya pengembangan kampus, namun juga bergerak ke usaha perhotelan dan usaha lain, dengan tetap berbasis pendidikan.
Dikatakan, UNP telah memiliki areal di Tarok City Pariaman seluas 150 Ha, untuk pengembangan prodi manajemen golf dan pembangunan lapangan golf itu sendiri
Untuk Kampus UNP di daerah-daerah selain 4 kampus di Padang, di Bukit Tinggi UNP nengembangkan Fakultas Kedokteran, di Painan yang dimulai tahun ini terdapat jurusan Teknologi Informatika, Teknik Mesin dan Otomotif, di Payakumbuh bidang study Kuliner Minang, sedangkan Pariaman bidang study keperawatan, dan di Sawahlunto Jurusan Tekhik Mesin serta Tambang.
Pengembangan kampus di daerah-daerah, kata Ganefri, adalah salah satu pola UNP untuk mengadakan pendekatan ke rakyat.
“Saat ini mahasiswa UNP ada di seluruh Kecamatan dan nagari di Sumatera Barat, serta ribuan lainnya terdapat di luar Provinsi Sumatera Barat,” katanya.
Turut diingatkan, pendidikan Sumbar saat ini sudah jauh tertinggal dari propinsi tetangga, Riau dan Jambi. Namun hal Ini dapat dimaklumi, karena perekonomian daerah tetangga jauh lebih baik.
“Jangan lagi beranggapan Sumbar itu pendidikannya lebih maju. Itu dulu,” ingat Profesor Ganefri.
Mengantisipasi kondisi tersebut, Rektor UNP menegaskan peran serta dan perhatian pemerintah daerah sangat diperlukan untuk memajukan kembali dunia pendidikan di Sumatera Barat.
“Memulai pembanguan pendidikan itu harus dari sektor dasar, yakni dari Pendidikan Usia Dini atau PAUD. Dan masyarakat harus kembali pada mindset berpikiran orang tua kita dulu, bialah dikurang-kurangi makan, asal anak lai sekolah,” tukuknya.







