HiburanBudayaGaya Hidup

FFHoror IX Bedah Sinkretisme Film Horor Indonesia, dari Mitos hingga Budaya 

12
×

FFHoror IX Bedah Sinkretisme Film Horor Indonesia, dari Mitos hingga Budaya 

Sebarkan artikel ini
IMG 20260923 WA0007
Diskusi Festival Film Horor di JTown Food & Entertainment Center, Jalan Jatinegara Timur, Jatinegara, Jakarta Timur. (Dok. Istimewa)

MJNEWS.ID – Festival Film Horor (FFHoror) IX mengupas perkembangan film horor Indonesia yang tidak lepas dari mitos, budaya, spiritualitas hingga strategi industri perfilman. Pembahasan tersebut mengemuka dalam diskusi bertema “Sinkretisme dan Fenomena Film Horor Indonesia” di JTown Food & Entertainment Center, Jalan Jatinegara Timur, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (28/9/2026).

Diskusi menghadirkan Budi Sumarno, praktisi perfilman, produser dan penulis skenario, serta Hasto Broto, sutradara yang telah menggarap sejumlah film Indonesia. Diskusi berlangsung gayeng dengan dipandu Didang Prajasasmita, jurnalis senior sekaligus pengamat film.

ADVERTISEMENT

Dalam paparannya, Budi Sumarno menjelaskan bahwa perjalanan film horor Indonesia berkembang dari cerita rakyat, ritual dan pertunjukan tradisional hingga menjadi pengalaman sinematik yang dinikmati masyarakat luas.

Budi mengatakan salah satu kekuatan film horor Indonesia terletak pada sinkretisme, yakni pertemuan berbagai unsur budaya, tradisi, kepercayaan lokal dan agama yang kemudian melahirkan makna baru dalam sebuah cerita.

Menurutnya, mitos Nusantara tidak sekadar dipindahkan ke layar lebar. Penulis skenario dan sutradara mengolah mitos tersebut menjadi konflik yang mempertemukan tradisi masyarakat, kepercayaan lokal, kehidupan modern hingga unsur keagamaan.

Dalam konteks Indonesia yang memiliki keragaman budaya, film horor juga dapat menjadi medium untuk memperkenalkan sejarah, tradisi leluhur, tempat-tempat keramat hingga praktik ritual yang masih hidup di tengah masyarakat.

Budi menjelaskan bahwa penonton pada dasarnya tidak hanya menikmati rasa takut. Ada rasa ingin tahu yang mendorong penonton mengikuti sebuah cerita, mulai dari misteri yang dihadirkan, identitas makhluk, penyebab teror hingga bagaimana konflik dalam film tersebut berakhir.

Dalam diskusi tersebut, Budi membagi perkembangan film horor modern ke dalam tiga subgenre utama, yakni Apocalyptic Horror, Demonic Horror, dan Psychological Horror.

Apocalyptic Horror berangkat dari ancaman kehancuran dunia atau peradaban. Sementara Demonic Horror menempatkan iblis, setan atau kerasukan sebagai sumber ancaman. Adapun Psychological Horror membangun ketakutan melalui trauma, paranoia, rasa bersalah hingga gangguan persepsi manusia.

Menurut Budi, ketiga pendekatan tersebut kini banyak digunakan sineas Indonesia untuk memperkaya narasi film horor sehingga tidak hanya bergantung pada kemunculan sosok hantu.

Ia menegaskan, film horor Indonesia bukan sekadar media untuk menakut-nakuti penonton. Melalui genre tersebut, masyarakat juga dapat diperkenalkan pada budaya, tradisi, sejarah, kepercayaan hingga berbagai sisi kehidupan masyarakat Indonesia.

Sementara itu, Hasto Broto menilai seorang sutradara memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan karya terbaik, apa pun genre film yang dikerjakan, baik horor, drama, komedi maupun komedi horor.

Menurut Hasto, ketika seorang produser meminta dibuatkan film dengan genre tertentu, fokus utama sutradara adalah mengeksekusi cerita dengan kualitas terbaik. Adapun keberhasilan sebuah film secara komersial tidak dapat dipastikan sejak awal.

“Siapa pun sutradaranya pasti ingin membuat film yang terbaik. Genre apa pun, eksekusinya harus bagus. Soal komersial, itu tidak bisa dijamin. Film yang ramai di media sosial pun belum tentu membuat orang datang ke bioskop,” ujar Hasto.

Ia menambahkan, benang merah film horor tetap berada pada kemampuannya menghadirkan rasa takut kepada penonton. Namun rasa takut tersebut dapat dibangun melalui berbagai pendekatan, mulai dari mitos, tradisi, spiritualitas hingga konflik manusia.

Hasto juga menekankan bahwa perfilman Indonesia tidak hanya kaya dengan film horor. Berbagai karya juga mengangkat pesan edukasi dan kemanusiaan, termasuk film bertema disabilitas yang menurutnya dapat membuka perspektif masyarakat mengenai ruang berkarya bagi penyandang disabilitas.

“Film adalah media yang luas. Ia bisa menakutkan, bisa menghibur, tetapi juga bisa menyampaikan pesan sosial dan kemanusiaan,” kata Hasto.

Di sisi lain, Hasto menjelaskan pembagian peran antara sutradara dan produser dalam sebuah produksi film. Sutradara, kata dia, bertugas membangun storytelling dan visual agar menghasilkan film yang baik, sedangkan produser bertanggung jawab menyiapkan strategi bisnis dan pemasaran agar film dapat sampai kepada penonton.

Budi Sumarno kemudian menimpali pandangan tersebut dengan mengatakan bahwa sutradara perlu diberikan ruang untuk menghasilkan karya terbaik, sementara aspek pemasaran menjadi bagian yang ditangani produser.

“Biarkan sutradara berkarya menghasilkan film yang bagus. Setelah itu produser yang mengurus bagaimana film tersebut dipasarkan dan bertemu dengan penontonnya,” tutur Budi.

Ketua Dewan Juri FFHoror, Ncank Mail, dalam sesi diskusi menegaskan bahwa setiap film lahir melalui proses kreatif. Karena itu, sebuah karya tidak dapat begitu saja dinilai hanya dari satu sudut pandang, sebab terdapat perbedaan pendekatan dan persepsi antara pembuat film dengan penonton.

Menurut Ncank Mail, hingga kini tidak ada “buku petunjuk” yang dapat menjamin sebuah film pasti sukses. Kondisi tersebut membuat sineas perlu memiliki kepekaan dalam membaca situasi, memahami perkembangan pasar sekaligus menjaga kualitas cerita dan penggarapan.

Ia kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan kepada Budi Sumarno dan Hasto Broto mengenai perspektif yang seharusnya menjadi pijakan dalam pembuatan film, apakah berasal dari penulis skenario, sutradara, produser atau penonton sebagai penerima akhir sebuah karya.

Ncank Mail juga menyoroti maraknya film horor Indonesia yang mengangkat mitos, tradisi lokal dan cerita rakyat sebagai sumber cerita. Menurutnya, pembuat film perlu memahami konteks budaya sebelum mengubahnya menjadi sebuah tontonan.

Ia mempertanyakan sejauh mana film horor berkontribusi terhadap pelestarian mitologi Nusantara sekaligus membuka kemungkinan terjadinya perubahan atau distorsi makna ketika mitologi tersebut diadaptasi ke layar lebar.

Selain itu, fenomena kebangkitan film horor Indonesia dalam beberapa tahun terakhir turut menjadi perhatian dalam diskusi. Hal tersebut membuka pembahasan mengenai hubungan antara perkembangan film horor dengan keterbukaan masyarakat terhadap isu kepercayaan dan spiritualitas, maupun perkembangan pasar industri perfilman.

Diskusi FFHoror IX akhirnya menjadi ruang dialog bagi praktisi, sutradara, jurnalis, komunitas dan penonton untuk melihat film horor Indonesia tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari pembahasan mengenai budaya, identitas serta perkembangan industri perfilman nasional.

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT