Mjnews.id – Sebuah kampanye edukasi digital bertajuk “Project Ruang” yang diusung oleh tim mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) hadir menantang stigma toxic masculinity yang selama ini membebani anak laki-laki, sekaligus mempererat hubungan komunikasi dalam lingkungan keluarga.
Melalui media film pendek edukatif dan publikasi poster digitalnya, Project Ruang menyoroti realitas sosial di mana masyarakat kerap menuntut anak laki-laki untuk senantiasa terlihat kuat, menahan tangis, serta memendam perasaan.
Doktrin seputar “laki-laki pantang menangis” atau penekanan bahwa “laki-laki harus memikirkan masa depan daripada mengandalkan perasaan” sering kali membuat anak laki-laki tumbuh tanpa ruang aman untuk mengekspresikan emosi maupun bakat alami mereka.
Menghancurkan Tembok Komunikasi Dalam Rumah
Film pendek karya Tim Project Ruang mengisahkan perjalanan dinamika hubungan antara seorang anak laki-laki bernama Rafa dan ayahnya. Selama bertahun-tahun, sang ayah menuntut Rafa untuk menjadi sosok yang senantiasa tangguh serta melarangnya mengekspresikan emosi maupun hobi menggambarnya. Akibat kurangnya ruang dialog yang terbuka di rumah, Rafa memilih meluapkan perasaannya melalui sketsa gambar orang terikat yang mencerminkan rasa tertekan.
Titik balik narasi terjadi ketika sang ayah menyadari kekeliruannya dan menghampiri Rafa untuk menyampaikan permohonan maaf yang tulus. Sang ayah menyadari bahwa membesarkan anak laki-laki menjadi kuat bukan berarti melarang mereka bersedih atau memendam emosi.
Sebagai bagian dari kampanye edukasi publik, Project Ruang mengajak para orang tua untuk mempraktikkan tiga pilar penting dalam membangun ruang tumbuh yang sehat di rumah.
Pesan Utama Kampanye Project Ruang
Kenali Tekanan Maskulinitas: Pahami bahwa anak laki-laki juga berhak merasa sedih, takut, dan bercerita. Menjadi kuat bukan berarti harus memendam semuanya sendiri.
Mulai dengan Mendengarkan: Dengarkan perasaan anak tanpa memberikan penghakiman. Percakapan kecil dan sederhana mampu membuka kembali kedekatan yang sempat renggang.
Refleksi Diri Orang Tua: Mendorong orang tua untuk melakukan tes refleksi mandiri guna mengukur keterbukaan dialog dan mulai membangun komunikasi interaktif di rumah.
Lebih lanjut mengenai tes refleksi orang tua serta konten edukasi lengkap dari kampanye ini dapat diakses secara publik melalui platform resmi Website ProjectRuang serta kanal YouTube Project Ruang UNP.
(*/uni)












