Sekali waktu barangkali kita pernah merasakan sulit sekali untuk bersyukur. Hidup terasa hampa. Banyak keinginan tak kunjung terpenuhi. Akibatnya, hati terasa keras dan membatu. Kesombongan menyelimuti kehidupan dari hari ke hari dan saat mendapat nasehat dari saudara, teman, ataupun pemuka agama sekalipun, kita merasa digurui. Ketahuilah bahwa kondisi tersebut sesungguhnya tanda bahwa seseorang tengah terjangkit penyakit hati yang membatu atau qaswatul qalb.
Oleh : Dr. H. Helmi, M.Ag
Mjnews.id – Semakin banyak kemaksiatan yang dilakukan seseorang maka sesungguhnya semakin membuat hatinya mengeras dan membatu. Allah SWT berfirman;
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاء وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya.” (QS. Al-Baqarah: 74)
Maka, kata Ibnul Qayyim: “Hati seseorang yang telah kering dan membatu, ia bagaikan pohon yang meranggas dan mati. Keduanya hanya pantas dilalap api.” Nau’dzubillah min dzalik.
Para ulama menjelaskan beberapa sebab yang membuat seseorang menjadi kerasnya hati, antara lain Qadhi al-Fudail berkata, “Tiga peristiwa yang menyebabkan hati membatu; yakni : terlalu banyak makan, terlalu banyak tidur dan terlalu banyak berbicara.” Bahkan, makan yang berlebihan merusak kesehatan badan.
Ibnu Sina, pakar kedokteran Islam generasi awal, berkata, “Perhatikanlah (konsumsi) perutmu sebab sebagian besar penyakit bermula dari makanan yang berlebihan.”
Karena itulah, Ali bin Abi Thalib RA berkata, “Istirahatnya badan dengan mengurangi makan, istirahatnya lidah dengan mengurangi berbicara, dan istirahatnya hati dengan mengurangi keinginan.” Untuk menghindari qaswatul qalb, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita, antara lain, untuk pandai bersyukur.
Pernahkah kita terbukti bersalah namun sukar sekali mengeluarkan kata minta maaf? Alasannya, orang yang dimintai maaf lebih muda dari kita, lebih miskin dari kita, atau status jabatannya lebih rendah dari kita. Jika kita pernah mengalami hal yang demikian atau menyaksikan orang yang berperilaku seperti itu, artinya orang tersebut sesungguhnya telah mengidap penyakit qaswatul qalb.
Penyakit ini susah disembuhkan karena obatnya ada pada diri si-penderitanya sendiri. Egoisme, gengsi, atau perasaan paling istimewa, biasanya menjadi biang keladi mengapa hati seseorang membatu sehingga sukar dimasuki kebenaran dan kebaikan yang datang dari luar dirinya.
Suatu hari seorang laki-laki datang mengadu kepada Rasulullah SAW tentang hatinya yang keras (qaswatul qalb). Rasulullah SAW menjawab: “Jika kamu ingin melunakkan hatimu maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR al-Hakim dalam al-Mustadrak)
Dalam hadits tersebut, Rasulullah menganjurkan orang yang keras hatinya untuk melatih diri berempati dengan orang-orang lemah. Empati tersebut diwujudkan salah satunya dengan memberi makan orang miskin. Makan adalah di antara kebutuhan primer (hajiyat) setiap manusia.
Penghasilan orang miskin sering hanya bisa mencukupi keperluan pokok tersebut tanpa bisa menambah kebutuhan sekunder lainnya. Lebih dari miskin disebut faqir. Keduanya merupakan kelompok rentan yang sama-sama membutuhkan uluran tangan.
Ibnu Rajab al-Hanbali saat menjelaskan hadits ini mengatakan bahwa bergaul dengan orang-orang miskin dapat meningkatkan rasa ridha dan syukur seorang hamba atas nikmat yang dikaruniakan oleh Allah Azza wa Jalla. Sebaliknya, bergaul dengan orang kaya potensial membuatnya kurang menghargai rezeki yang diterimanya. Selanjutnya adalah mengusap kepala anak yatim. Kata “mengusap” di sini merupakan kiasan dari anjuran untuk menyayangi, berlemah lembut, dan mengayomi mereka.
Rasulullah bersabda yang maknanya : “Barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim laki-laki atau perempuan hanya karena Allah, baginya setiap rambut yang diusap dengan tangannya itu mengalirkan banyak kebaikan, dan barangsiapa berbuat baik kepada anak yatim perempuan atau laki-laki yang dia asuh, aku bersama dia di surga seperti ini (Nabi menyejajarkan dua jarinya).”
Dalam hadits itu, Allah SWT memberikan kebaikan kepada orang-orang yang mengusap kepala anak yatim. Jumlah rambut di hadits ini merupakan ilustrasi dari kebaikan yang tak terhitung sebagaimana tak terhitungnya jumlah rambut kepala orang. Artinya, sebanyak apa kebaikan seseorang kepada anak yatim, sebesar itu pula Allah SWT berikan kebaikan kepadanya.
Inilah mengapa hati yang keras menjadi mudah melunak, terbuka terhadap kebenaran dan kebaikan. Sebab, Sang Penguasa Hati sedang berada di pihaknya.
Allah SWT berfirman:
وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖوَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dan bagi-Nya lah keagungan di langit dan bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS al-Jaatsiyah: 37)
Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa melembutkan hati kita agar terhindar dari qaswatul qulb untuk meraih ridha-Nya… Aamiin Ya Rabb.
Wallahua’lam bishawab
(*)






