Tak terasa sudah 98 tahun Hari Sumpah Pemuda. Ketika teknologi berkembang semakin cepat, mampukah generasi muda menjaga jati diri, mengasah daya pikir, dan membuktikan bahwa mereka bukan sekadar penonton perubahan?
Oleh : Sutan Sari Alam
(Wartawan Muda)
Mjnews.id – Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia kembali mengenang keberanian para pemuda yang pada 1928 menyatukan tekad untuk satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, Indonesia.
Namun, di tengah gegap gempita peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026, ada pertanyaan yang patut direnungkan, apakah semangat persatuan dan perjuangan itu masih hidup dalam tindakan generasi muda hari ini, atau perlahan tenggelam di tengah hiruk-pikuk dunia digital?
Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Generasi muda sekarang hidup dalam zaman yang jauh berbeda dari generasi 1928. Jika dahulu perjuangan menghadapi penjajahan dilakukan dengan keterbatasan sarana dan komunikasi, kini tantangan hadir melalui layar telepon genggam, derasnya arus informasi, persaingan global, kecerdasan buatan, hingga perubahan pola kerja yang bergerak begitu cepat.
Teknologi menawarkan kemudahan sekaligus menyimpan tantangan. Informasi dapat diakses dalam hitungan detik, tetapi kebenaran semakin menuntut kecermatan. Media sosial membuka ruang untuk berkarya, tetapi juga dapat menyita waktu dan perhatian. Kecerdasan buatan membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi menuntut keterampilan baru agar manusia tidak tertinggal oleh perubahan.
Di sinilah makna Sumpah Pemuda perlu dibaca kembali. Persoalan generasi muda hari ini bukan semata-mata apakah mereka mampu menggunakan teknologi, melainkan apakah mereka mampu mengendalikan teknologi untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
Tidak dapat dipungkiri, teknologi digital telah membuka peluang besar bagi generasi muda. Mereka dapat belajar dari berbagai sumber, memasarkan produk tanpa harus memiliki toko fisik, membangun usaha dari rumah, mengembangkan kreativitas, serta menyuarakan persoalan masyarakat kepada khalayak yang lebih luas.
Generasi muda tidak harus menjadi ahli teknologi untuk menghadapi perubahan ini. Namun, mereka perlu memiliki literasi digital, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, etika, serta kemauan untuk beradaptasi.
Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi manusia tidak boleh menyerahkan akal sehat, nurani, dan tanggung jawabnya kepada mesin.
Salah satu tantangan terbesar di era digital adalah menjaga etika di tengah kebebasan berekspresi.
Ruang digital sering kali membuat seseorang merasa bebas berbicara tanpa harus memikirkan akibat dari ucapannya. Informasi dibagikan tanpa pemeriksaan, tuduhan dilontarkan tanpa bukti, dan perbedaan pendapat terkadang berubah menjadi permusuhan.
Padahal, jejak digital dapat bertahan lama. Sebuah unggahan yang dibuat dalam kemarahan dapat menyebarkan kesalahpahaman, melukai orang lain, bahkan menimbulkan persoalan yang lebih luas.











